KITAINDONESIASATU.COM – Sholat Subuh merupakan ibadah wajib namun sangat berat dalam melaksanakannya karena dikerjakannya saat masuk fajar di mana masih banyak orang yang sedang lelap tertidur. Padahal, Sholat Subuh berjamaah banyak keutamaannya.
Keutamaan sholat Subuh, di antaranya, mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat. Dalam salah satu hadits disebutkan:
عن بريدة الأسلمي رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم قال : بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Dari Buraidah al-Aslami dari Nabi Muhammad, sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dalam hadits lain diriwayatkan dari Utsman bin Affan, Rasulullah bersabda:
مَن صَلىَّ العِشاءَ في جَمَاعةٍ، فكأنَّما قَامَ نِصفَ الليلِ، ومَن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلَّى الليلَ كلَّه
Artinya: “Barang siapa yang melakukan sholat isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan sholat setengah malam. Barang siapa yang melakukan sholat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan sholat malam sepanjang waktu”. (HR. Muslim)
Dua hadits di atas menegaskan bahwa sholat Subuh berjamaah lebih unggul dibandingkan shalat Subuh sendirian, apalagi shlatnya dikerjakan secara berjamaah akan mendapatkan pahala 27 derajat.
Selain itu, dengan sholat Subuh berjamaah seseorang akan dihindarkan dari penyakit kemunafikan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
ليسَ صَلَاةٌ أثْقَلَ علَى المُنَافِقِينَ مِنَ الفَجْرِ والعِشَاءِ، ولو يَعْلَمُونَ ما فِيهِما لَأَتَوْهُما ولو حَبْوًا، لقَدْ هَمَمْتُ أنْ آمُرَ المُؤَذِّنَ، فيُقِيمَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا يَؤُمُّ النَّاسَ، ثُمَّ آخُذَ شُعَلًا مِن نَارٍ، فَأُحَرِّقَ علَى مَن لا يَخْرُجُ إلى الصَّلَاةِ بَعْدُ
Artinya: Tidak ada sholat yang lebih berat dilaksanakan bagi orang munafik daripada sholat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu keutamaan yang terdapat di dalamnya (Subuh dan Isya), niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan muadzin agar didirikan (iqamah) sholat, lalu aku perintahkan seseorang untuk memimpin sholat (berjamaah), kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang tidak keluar melaksanakan sholat berjamaah di masjid (tanpa alasan yang benar) (HR. Bukhari-Muslim). (*)


