KITAINDONESIASATU.COM – Kota Bogor sejak lama dikenal sebagai surga wisata kuliner di Jawa Barat. Dari jajanan kaki lima hingga hidangan legendaris, semuanya tersedia di Kota Hujan ini. Namun, di balik popularitas kulinernya, tak banyak yang tahu bahwa Bogor menyimpan salah satu warisan kuliner langka yang mulai sulit ditemukan: Cungkring.
Sekilas, nama “Cungkring” mungkin terdengar asing, bahkan unik di telinga. Tapi jangan salah, di balik namanya tersimpan cita rasa khas yang gurih dan kenyal. Makanan ini berbahan dasar bagian bibir dan otot sapi, dengan racikan bumbu kuning yang menggoda.
“Nama Cungkring ini sebenarnya diambil dari bahan dasarnya. ‘Cung’ berasal dari kata cungur yang berarti bibir sapi, sementara ‘kring’ dari garingan kaki atau otot sapi,” jelas Deden, salah satu penjual cungkring yang masih bertahan hingga kini.
Dalam seporsi Cungkring, pembeli akan menemukan potongan kikil berbumbu kuning, dilengkapi irisan lontong, tempe goreng, dan rempeyek renyah.
Tak ketinggalan siraman bumbu kacang kental serta sedikit kecap manis yang memperkaya rasa.
Sensasi kenyal, gurih, manis, dan sedikit pedas berpadu dalam satu suapan, membuat siapa pun yang mencoba pasti ingin menyendok lagi.
Jejak kuliner Cungkring di Kota Bogor tak lepas dari perjalanan panjang keluarga Deden. Bermula dari sang kakek yang berjualan keliling sejak tahun 1975, usaha ini kemudian diteruskan oleh sang ayah, Pak Jumat, yang memilih menetap di kawasan Jalan Suryakencana, Kota Bogor, Jawa Barat.
“Dulu ayah saya mulai menetap jualan di Suryakencana karena makin banyak pembeli. Sekarang, beberapa orang lain juga ikut berjualan cungkring di kawasan ini. Bahkan sudah mulai muncul di tempat lain,” ujarnya, Rabu 2 Juli 2025.
Meski jumlah penjual mulai bertambah, Deden tetap menjaga cita rasa otentik warisan keluarganya. Sajian cungkring paling nikmat disantap saat pagi hari. Biasanya, lapak-lapak cungkring sudah mulai buka sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 10.00 WIB. (Nicko)




