Lifestyle

Bukan Sekadar Tradisi, Ini Dalil Mencium Hajar Aswad

×

Bukan Sekadar Tradisi, Ini Dalil Mencium Hajar Aswad

Sebarkan artikel ini
hajar
Hajar Aswad. (Foto: Dok. Google)

KITAINDONESIASATU.COM – Jutaan orang yang menunaikan ibadah umrah maupun haji tiidak akan menyia-nyiakan untuk mencium Hajar Aswad. Mereka rela berdesak-desakan hanya untuk sekadar mengusap hingga mencium Hajar Aswad.

Daya Tarik Hajar Aswad memang luar biasa, karena salah satu tempat yang mustajab, dan batu tersebut bukan batu biasa namun berasal dari surga.

Lantas adakah dalil yang menganjurkan mengusap, mencium Hajar Aswad? Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنْ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنْ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ

Artinya: “Dari Ibn Abbas, ia berkata Rasulullah bersabda, Hajar Aswad turun dari surga, berwarna sangat putih daripada susu, lalu berwarna hitam akibat dosa manusia.” (Sunan Tirmidzi, 308)

Dalam hadits lain:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنْ الْجَنَّةِ

Artinya: Dari Ibn Abbas, sesungguhnya Nabi Muhammad bersabda, Hajar Aswad itu berasal dari surga. (Sunan Al-Nasa’i, 2886)

Kemudian Hajar Aswad itu oleh Allah diserahkan kepada Nabi Ibrahim untuk diletakkan di sudut Ka’bah sebagai pertanda dan lokasi dimulainya tawaf. Sudut itu adalah sudut bagian tenggara dari Ka’bah. Disunahkan bagi laki-laki untuk meletakkan dahinya ke Hajar Aswad serta menyentuh dan menciumnya sebanyak tiga kali.

Namun apabila tidak mampu menyentuh secara langsung, sebab sulit mendekat, maka bisa dengan menggunakan tongkat, lalu mencium ujung tongkat yang menyentuh Hajar Aswad tersebut.

Jika tetap tidak bisa, maka cukup dengan isyarat tangan kanan. Peletakan Hajar Aswad di sudut Ka’bah sangat strategis, sehingga jamaah haji umrah setelah tawaf berebut mencium dan mengusap batu hitam yang diwadahi besi perak itu.

 Hal ini mengacu perkataan Umar bin Khattab:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ جَاءَ إِلَى الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ فَقَبَّلَهُ فَقَالَ إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Artinya: Dari Umar, sesungguhnya ia mendatangi Hajar Aswad, kemudian mencium Hajar Aswad dan berkata, aku mengetahui engkau adalah batu yang tidak akan memberikan faidah apapun, jika aku tidak melihat Nabi Muhammad menciummu, maka aku tidak akan menciummu. (Sahih Bukhari, 1494). (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *