KITAINDONESIASATU.COM -Mungkin Anda bengong dengan kepernahadaan agama Hindu di Banten. Akan tetpi, tidak perlu bengong. Sebab, di Aceh pun jejak agama Hindu masih ada hingga sekarang, apalah lagi di Banten yang berada di Pulau Jawai. Tapi, Anda bisa melongo ketika mengetahui ada peninggalan Hindu di Serang, Banten.
Cobalah berkunjung ke Situs Banten Girang, salah satu tempat bersejarah yang lazim dijadikan lokasi ziarah umat Islam. Karena di tempat inilah pengikut setia Sultan Hasanudin yakni Ki Mas Jong dan Ki Agus Ju disemayamkan.
Makam-makam yang dikeramatkan ini berada di dalam sebuah bangunan kecil yang terdiri dari dua ruang (kalau tidak salah, karena tidak bisa memasuki ruangan makam), ruangan pertama berisi benda-benda peninggalan purbakala seperti keris, guci, uang logam, pecahan-pecahan keramik dari Tiongkok, genteng-genteng, sebuah arca kuningan, Alquran tulisan tangan, dan benda-benda pamer lainnya.
Tidak jauh atau sekitar 400 meter dari Situs Banten Girang, terdapat sebuah gua yang dahulu dijadikan tempat pertapaan umat Hindu.
Gua yang dipahat pada batu ini terdiri dari 3 ruangan. Ruangan pertama selebar kurang lebih 2,5 meter dengan lebar kurang dari 1 meter dan tinggi 1 meter lebih. Ruangan kedua lebih kecil dari yang pertama, dan ruangan yang ketiga lebih kecil lagi dari yang kedua. Lantai pada ketiga ruangannya digenangi air. Pada langit-langit ruangan ketiga terdapat sebuah ceruk.
Gua ini berhadapan langsung dengan Sungai Cibanten (jadi ingat Masjid Indapuri di Aceh Besar yang berlokasi di pinggir sungai juga). Yang jadi pertanyaan, apakah ada hubugannya tempat pemujaan dengan sungai dalam Hindu? Dari beberapa informasi, Hindu adalah agama air. Makanya tempat-tempat pemujaan selalu berada di dekat sumber air.
Saat menatap aliran Sungai Cibanten, terbayang pada tahun 932 Masehi lalu, ada banyak pendeta di pinggir sungai melakukan pemujaan. Di aliran sungai itu ada banyak perahu-perahu para pedagang yang lalu lalang. Dan berbalik ke belakang, menatap punden yang berlokasi lebih tinggi. Ke sanalah para pendeta itu membawa aneka rupa bunga sebagai sajen untuk ritual pemujaan.
Perintah Sunan Gunung Jati
Banten Girang diketahui merupakan pusat ibu kota Kerajaan Sunda di bawah kekuasaan Sriwijaya yang didirikan pada 932 Masehi dan berkuasa selama lima abad di Tanah Banten.


