KITAINDONESIASATU.COM – Berikut ini penjelasan dari dr. Zaidul Akbar tentang alasan penderita sakit maag masih mampu puasa di bulan Ramadhan.
Puasa di bulan Ramadhan sering kali dianggap sulit bagi penderita maag, mengingat kondisi ini umumnya mengharuskan makan secara teratur.
Namun, dr. Zaidul Akbar mengungkapkan bahwa dengan menjalankan puasa sesuai tuntunan yang benar, justru tubuh dapat beradaptasi dan memperoleh manfaat kesehatan yang luar biasa.
Melalui akun Instagram @cafe.jsr, dr. Zaidul Akbar menjelaskan bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memperbaiki diri.
Jika dilakukan dengan benar sesuai dengan syariat dan tuntunan Al-Quran, puasa dapat membantu tubuh membuang zat-zat yang tidak diperlukan serta memperbaiki bagian yang mengalami disfungsi.
Penjelasan Penderita Sakit Maag Mampu Puasa

“Percayalah bu, pak, kalau benar-benar menjalankan puasa dengan baik dan benar, sesuai tuntunan syariat dan Al-Quran, efeknya luar biasa,” kata dr. Zaidul Akbar.
“Jadi puasa tuh ngurai yang rusak-rusak, dibuang sama dia,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa puasa sebenarnya bisa menjadi terapi alami bagi penderita penyakit degeneratif, kronis, hingga autoimun, termasuk seperti dispepsia atau maag.
Menurutnya, meskipun penderita maag sering kali tidak bisa terlambat makan dalam kondisi normal, saat berpuasa justru lambung diberi kesempatan untuk beristirahat dan melakukan proses regenerasi.
Tubuh secara alami menyesuaikan diri dan mulai menggunakan cadangan energi yang ada.
“Kalau saya, pernah paling lama 21 atau 22 jam tidak makan. Cuma sekali makan, dan rasanya tubuh jadi terasa luar biasa segar dan enak setelahnya,” ungkapnya.
Selain itu, dr. Zaidul Akbar menjelaskan bahwa saat sahur, tubuh mendapatkan sinyal bahwa makanan tersebut adalah asupan terakhir sebelum puasa dimulai.
Energi utama yang digunakan selama puasa berasal dari lemak dan glikogen. Jika tubuh mulai mengakses lemak sebagai sumber energi, maka dampaknya sangat besar bagi kesehatan.
“Energi yang pertama adalah lemak, yang kedua adalah glikogen. Dua-duanya dipakai, kata dr. Zaidul Akbar.
Demikian penjelasan dari dr. Zaidul Akbar tentang alasan penderita sakit maag masih mampu puasa di bulan Ramadhan.(*)



