Lifestyle

2 Tanda Puasa Ramadan Diterima Allah SWT, Apa saja?  

×

2 Tanda Puasa Ramadan Diterima Allah SWT, Apa saja?  

Sebarkan artikel ini
RAMADAN 5
Ilustrasi.

KITAINDONESIASATU.COM – Bulan Suci Ramadan telah berakhir, dan kini masuk bulan Syawal. Selama satu bulan penuh kemarin di bulan Ramadan kita berpuasa, dan yang menjadi pertanyaan kita apakah puasa kita diterima. Nah, ini dia tanda-tanda puasa Ramadan kita diterima oleh Allah SWT.

Kemaren di bulan Ramadan kita sudah sekuat tenaga, bahkan juga melawan hawa nafsu untuk tidak melakukan hubungan intim suami istri pada waktu siang hari. Selain itu, kita diwajibkan untuk jujur dalam segala hal.

Pun setelah bulan puasa Ramadan berakhir, maka hal-hal seperti maksiat sudah sepatutnya kita tinggalkan di bulan-bulan lainnya. Artinya, untuk mengedepankan kebaikan dan menjauhkan maksiat.

Baca Juga  20+ Daftar Makanan Huruf N di Indomaret

Salah satu ulama dari kalangan Hanabilah (madzhab Hanbali) bernama Ibnu Rajab menjelaskan tanda-tanda yang mengindikasikan diterimanya ibadah puasa. Dalam kitabnya Lathaiful Ma’arif setidaknya dijelaskan bahwa ada dua tanda ibadah puasa seseorang diterima.

Pertama, Terbiasa Berpuasa di Bulan Syawal

Salah satu tanda seseorang diterima ibadah puasanya selama bulan Ramadan adalah melanjutkan berpuasa di bulan Syawal. Lebih tepatnya hari kedua pada bulan Syawal sampai pada hari ketujuh.

Adapun keutamaan  berpuasa di bulan Syawal seperti setara berpuasa selama satu tahun penuh, namun menjadi indikator diterimanya puasa seseorang. 

   أَنَّ مُعَاوَدَةَ الصِّيَامِ بَعْدَ صَامَ رَمَضَانَ عَلاَمَةٌ عَلىَ قَبُولِ صَوْمِ رَمَضَانَ؛ فَإِنَّ اللّٰهَ تَعَالى إِذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عَبْدٍ وَفَّقَهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَهُ

Baca Juga  10+ Ide Lomba 17 Agustus untuk Ibu-ibu, Dijamin Seru!

Artinya, “Memiliki kebiasaan berpuasa setelah puasa bulan Ramadhan (puasa bulan Syawal) merupakan tanda dari diterimanya puasa Ramadhan. Sebab Allah menerima amal seseorang bergantung pada amal shalih sesudahnya,” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif).

Kedua, Tidak Mengulangi Maksiat

Berikutnya adalah memiliki kecondongan hati untuk tidak mengulangi maksiat di waktu mendatang. Hal ini merupakan poin utama dalam bertobat. Melaksanakan peribadatan berbanding lurus dengan komitmen untuk tidak terjerumus pada kemaksiatan, baik maksiat yang pernah dilakukan, maupun yang belum pernah dilakukan.

Sementara itu, Tajuddin As-Subki mengutip pernyataan salah satu ulama syafi’iyah bernama Abu Ali Al-Ashbahani. Dalam sebuah majelis, Al-Ashbahani ditanya oleh seseorang mengenai tanda diterimanya ibadah puasa Ramadan.

Baca Juga  Jadwal Acara Trans TV Rabu, 7 Mei 2025: dua Film Andalan Shot Caller dan Sicario Day of The Soldado

Beliau menjawab, bahwa tanda ibadah puasa diterima ketika seseorang meninggal di bulan Syawal tanpa melakukan tindakan buruk (maksiat). Al-Ashbahani meninggal pada bulan Syawal di hari Senin pada tahun lima ratus dua puluh lima hijriah. (Thabaqatus Syafi’iyah).

Sekali gaui bahwa ibadah puasa seseorang diterima adalah hak prerogratif Allah SWT, namun setidaknya kita memiliki Gambaran atas kualitas puasa kota sendiri. Semoga puada di tahun depan dan berikitnya diterima Allah SWT. Wallahu A’lam Bisshawab. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *