Antisipasi investor terhadap data inflasi AS yang bakal dirilis pekan ini diprediksi bakal menjadi faktor penting penguatan dolar AS pada pekan ini dan menekan nilai tukar rupiah.
Inflasi utama AS diperkirakan akan naik 0,3 persen month to month (MoM) dan meningkat dari 2,7 persen menjadi 2.8 persen year on year (YoY).
Rupiah dan mata uang regional secara umum melemah cukup besar terhadap dolar AS karena data tenaga kerja AS Non Farm Payrolls (NFP) pada Desember 2024 tercatat sebesar 256 ribu, lebih baik dari bulan sebelumnya yang sebesar 212 ribu.
“Data perdagangan China yang kuat dan lebih baik dari perkiraan sedikit menahan pelemahan lebih lanjut dari rupiah,” katanya.
Tercatat, data neraca perdagangan China yang rilis pagi tadi surplus sebesar 104,84 miliar dolar AS atau lebih baik dari perkiraan yang sebesar 99,80 miliar dolar AS.
“Aktivitas ekonomi China meningkat oleh permintaan yang tinggi dari AS dalam antisipasi sebelum Trump menjabat dan penambahan tarif diberlakukan,” ungkapnya.***



