“KAD yang dilakukan bisa lebih mendalam hingga pendampingan petani untuk merambah ke ranah pergudangan dan pendampingan pihak ketiga,” ujar Arlyana.
Selain itu, strategi pengendalian dapat berupa fasilitasi subsidi ongkos angkut (SOA), pembangunan sistem agribisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir dengan skema G-to-G ataupun B-to-B untuk penguatan sistem logistik.
Penyusunan sistem pergudangan dan cold chains, lanjutnya, untuk komoditas hortikultura, pengembangan lahan pangan khusus. Hingga program urban farming Program Perkarangan Pangan Lestari (P2L) dengan hidroponik.
Dia katakan, Kepri memiliki hidroponik terbesar dan modern di Indonesia, namanya Batamindo Green Farm drngan luas lahan mencapai 675 Ha.
Mampu berproduksi lebih dari 100.000 ton per tahun dengan komoditas berupa sayuran hardy dan leafy, termasuk aneka cabai dan tomat ceri, yang dipasarkan di Indonesia dan Singapura.
Produktivitas tanaman aneka cabai di Batamindo Green Farm mencapai 4,5 kilogram per pohon dengan panen setiap dua hari.
“Konsep hidroponik modern ini potensial untuk diterapkan di Jakarta yang memiliki keterbatasan lahan. Selain mendukung pasokan pangan, Batamindo Green Farm juga bekerja sama dengan pemerintah provinsi dalam mendukung pelaksanaan Pasar Murah,” jelasnya.
Ia menambahkan, Capacity Building dan Studi Banding ke Kepulauan Riau ini diharapkan mampu memperkuat sinergi pengendalian inflasi dan membuka potensi kerja sama antardaerah.



