KITAINDONESIASATU.COM – Belakangan ini, Generasi Z atau Gen Z menjadi pusat perhatian masyarakat karena sering dianggap kurang memiliki ketahanan mental di duia kerja.
Fenomena beberapa perusahaan yang disebut-sebut berhenti merekrut karyawan dari generasi ini menjadi topik hangat di media sosial.
Isu ini muncul berdasarkan survei dari Intelligent.com pada Agustus 2024, yang melibatkan 966 manajer perekrutan.
Hasil survei menunjukkan bahwa 6 dari 10 perusahaan memutuskan hubungan kerja dengan karyawan Gen Z yang baru lulus, dengan alasan tidak profesional dan kurang siap untuk berkarir.
BACA JUGA : Penyebab dan Cara Atasi ‘Jam Koma’, Istilah yang Lagi Populer Dipakai Gen Z di TikTok
Meski tidak semua Gen Z memiliki perilaku yang dipermasalahkan, jumlah mereka yang cukup banyak dianggap mewakili karakteristik generasi saat ini.
BACA JUGA : Apa Arti ‘Jam Koma’ yang Viral di TikTok? Populer di Kalangan Gen Z Simak Artinya
Perusahaan kini lebih memilih merekrut mantan karyawan daripada lulusan baru.
“Berdasarkan data dari beberapa konsultan, 70 persen perusahaan memang lebih menyukai mantan karyawan daripada staf baru,” jelas seorang pakar.
Stigma negatif terhadap tenaga kerja muda juga sempat dialami generasi milenial, yang waktu itu sering dikritik oleh generasi X.
Banyak generasi muda saat ini dinilai memiliki rasa “entitlement” atau merasa berhak atas sesuatu, sering kali menuntut hak namun kurang memahami tanggung jawab mereka.
7 ‘Masalah’ Gen Z di Tempat Kerja
Ada banyak alasan mengapa Gen Z sering kali mendapat stigma negatif di tempat kerja. Faktor penyebab perilaku ini cukup beragam, termasuk pesatnya perkembangan teknologi.
Menurut pengamat, kemajuan teknologi menciptakan budaya dan pola pikir instan yang membuat generasi muda kurang tangguh. Teknologi juga menurunkan intensitas komunikasi langsung, dari penyampaian pesan hingga penerimaan umpan balik. Komunikasi bukan sekadar berbicara di depan umum atau membuat konten di media sosial.
Ini mencakup rasa hormat terhadap lawan bicara, mendengarkan dengan aktif, menghargai pendapat, menerima masukan, serta etika komunikasi. Aspek ini juga menjadi keluhan perusahaan
Disamping itu dikutip dari theforage.com, setidaknya ada 7 ‘masalah’ mengapa stigma negatif Gen Z di tempat kerja, antara lain :
1. Jam Kerja dan Keseimbangan Hidup
Generasi Z lebih memilih meninggalkan pekerjaan tepat waktu dan fokus pada hasil ketimbang jumlah jam kerja. Mereka lebih menghargai keseimbangan hidup daripada karier yang menonjol atau jabatan tinggi.
Pengusaha bisa fokus pada hasil kerja dan berbicara terbuka tentang ekspektasi untuk mencapai keseimbangan ini.
2. Tantangan Kesehatan Mental
Gen Z mengalami tingkat masalah kesehatan mental lebih tinggi daripada generasi lain, sebagian karena paparan media sosial. Kondisi ini bisa memengaruhi efektivitas kerja mereka.
Program kesehatan mental di tempat kerja dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka.
3. Ambisi Menjadi CEO
Generasi Z memiliki ambisi besar untuk mencapai posisi eksekutif dengan cepat. Mereka berharap mendapat promosi dalam waktu singkat, berbeda dengan pandangan generasi lain.
Pengusaha bisa menyediakan jalur karier yang jelas dan ekspektasi yang transparan untuk memenuhi ambisi mereka.
4. Harapan Gaji Lebih Tinggi
Gaji menjadi prioritas utama bagi Gen Z, dan mereka menginginkan transparansi dalam informasi gaji. Mereka berharap gaji yang ditawarkan mencukupi biaya hidup yang meningkat.
Menawarkan gaji yang kompetitif bisa meningkatkan loyalitas mereka pada perusahaan.
5. Tidak Menoleransi Nilai yang Tidak Sesuai
Gen Z memilih perusahaan yang konsisten dengan nilai-nilai mereka, seperti keberagaman dan keberlanjutan. Mereka siap pindah jika nilai perusahaan tidak sesuai. Pengusaha bisa membuktikan komitmen terhadap nilai tersebut melalui kebijakan dan praktik yang nyata.
6. Kurangnya Keterlibatan
Hanya 31% Gen Z yang merasa terlibat di tempat kerja, sering kali karena kelelahan dan kurangnya koneksi dengan rekan kerja. Menangani masalah ini dengan mengelola beban kerja dan menciptakan koneksi yang bermakna dapat meningkatkan keterlibatan mereka.
7. Preferensi Bekerja dari Rumah
Gen Z cenderung lebih menyukai kerja jarak jauh karena merasa lebih produktif dan dapat menjaga batasan kehidupan pribadi. Banyak dari mereka yang memulai karier di tengah pandemi, sehingga terbiasa dengan pola kerja hibrida atau jarak jauh.



