Hal tersebut mengakibatkan Indonesia mengalami arus modal keluar sekitar 750 juta dolar AS atau setara Rp12,02 triliun (kurs 1 dolar AS=Rp16.028) sejak pertengahan November 2024.
Angka tersebut terdiri atas arus keluar sebesar 350 juta dolar AS (Rp5,6 triliun) dari aset obligasi pemerintah dan aksi jual bersih asing sekitar 400 dolar AS (Rp6,4 triliun) dari pasar modal domestik.
Ia mengatakan rupiah terdepresiasi sebesar 1,39 persen month-to-month (mtm) dari Rp15.770 per dolar AS menjadi Rp15.990 per dolar AS dalam 30 hari terakhir.
Meskipun demikian, performa rupiah relatif moderat sepanjang 2024 dibandingkan dengan mata uang lainnya.
Dengan tingkat depresiasi sebesar 3,86 persen year-to-date (ytd), rupiah memiliki performa lebih baik daripada peso Filipina, rubel Rusia, lira Turki, real Brasil, dan peso Argentina.
Akan tetapi, rupiah terdepresiasi lebih dalam dibandingkan yuan Tiongkok, rupee India, baht Thailand, rand Afrika Selatan, dan ringgit Malaysia.***



