Keuangan

Analisis Ekonom dan Masalah Kepemimpinan Indonesia

×

Analisis Ekonom dan Masalah Kepemimpinan Indonesia

Sebarkan artikel ini
Diskusi publik dengan tema "Kemerdekaan dan Moral Politik Pemimpin Bangsa" yang diadakan oleh INDEF
Diskusi publik dengan tema "Kemerdekaan dan Moral Politik Pemimpin Bangsa" yang diadakan oleh INDEF

“Kasus lain seperti pemaksaan pembukaan jilbab kepada 18 wanita Paskibraka oleh BPIP juga menjadi contoh, padahal pada tahun-tahun sebelumnya dibolehkan,” tambahnya.

Didin menjelaskan bahwa hal ini mencerminkan krisis moral kepemimpinan yang berdampak luas selama 10 tahun terakhir. “Berbagai peristiwa menunjukkan pelanggaran etik berat, misalnya oleh Ketua MK yang meloloskan Gibran, serta Ketua KPU yang melakukan hal serupa,” imbuhnya.

Secara singkat, Didin menuturkan bahwa setelah 10 tahun, muncul gejala otoritarianisme baru dengan diberanguskannya tokoh-tokoh kritis partai politik serta civil society, dengan cara merekayasa hal tertentu agar sosok seperti Anies Baswedan bisa dihalangi untuk menjadi pesaing politik. Dampaknya, tercipta suasana ketakutan pada pers, tokoh parpol, dan hilangnya kontrol oleh civil society.

Baca Juga  Menko Polkam Pastikan Dorong Penguatan KPK Demi Hilangkan Praktek Korupsi di Indonesia

Narasumber lainnya, Faisal Basri, Ekonom Senior INDEF, menyatakan bahwa institusi dalam kehidupan bernegara ibarat fondasi dengan pilar-pilar seperti pertanian, industri, dan lainnya. “Atapnya adalah social safety net untuk melindungi rakyat kecil, di mana tidak boleh ada si miskin yang homeless dan terpinggirkan. Oleh karena itu, yang kaya harus membantu melalui zakat, infak, dan lainnya sebagaimana ajaran semua agama dalam hubungan antar manusia,” tegas Faisal.

“Jokowi telah merusak fondasi itu, sehingga rumah Indonesia ini pilarnya oleng dan tidak mampu menopang social safety net,” pungkasnya.

Baca Juga  Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Hanya 4,8%

Faisal menilai kasus minyak goreng Airlangga Hartarto adalah kesalahan Jokowi yang telah melarang ekspor minyak goreng, terbukti ekspor tidak mengalami peningkatan. Aturan main telah dirusak dengan mengorbankan kambing hitam. Di mana duduk permasalahannya adalah pengusaha CPO tidak perlu mengekspor jika harganya sama dengan harga jual. “Aturan dan tatanan dalam institusi harus ada untuk menimbulkan perilaku yang baik dan benar. Namun, saat ini institusi dirusak!” kata Faisal. (Anang Fadhilah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *