KITAINDONESIASATU.COM – Pabrikan otomotif asal Jepang, Honda, memutuskan membatalkan tiga proyek mobil listrik yang sebelumnya direncanakan meluncur di Amerika Utara mulai 2026.
Langkah ini mencerminkan perubahan strategi besar di tengah dinamika pasar kendaraan listrik global.
Tiga model yang dihentikan pengembangannya meliputi Honda 0 Saloon, Honda 0 SUV, dan Acura RSX.
Keputusan tersebut diiringi dengan pencatatan penurunan nilai investasi bisnis kendaraan listrik hingga USD15,7 miliar atau sekitar Rp266,9 triliun.
Secara global, penjualan mobil listrik Honda masih tergolong rendah. Dari total 3,4 juta unit kendaraan yang terjual, hanya sekitar 84 ribu unit atau setara 2,5 persen yang merupakan kendaraan listrik.
Kondisi serupa juga terjadi di pasar China, di mana penjualan EV Honda belum menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Permintaan Honda Lemah dan Persaingan Ketat
Rendahnya minat pasar menjadi faktor utama di balik keputusan ini.
Harga kendaraan listrik yang relatif tinggi, keterbatasan infrastruktur, serta berkurangnya insentif pemerintah membuat konsumen cenderung beralih ke kendaraan hybrid sebagai solusi transisi.
Selain faktor pasar, Honda juga menghadapi tekanan dari produsen baru, khususnya di China, yang dinilai lebih cepat dalam pengembangan teknologi dan perangkat lunak otomotif.
Hal ini membuat daya saing produk Honda di segmen EV semakin tertekan.
Padahal, Honda telah mengembangkan teknologi canggih melalui platform Honda 0 Series, termasuk peningkatan efisiensi motor dan desain baterai yang lebih ringkas.
Namun, inovasi tersebut belum mampu mengimbangi realitas pasar.
Keputusan ini menegaskan bahwa transisi menuju kendaraan listrik masih menghadapi tantangan besar, bahkan bagi produsen otomotif global.(*)
