Selain kulit, para peneliti juga mengkaji jarum tulang serta tali serat tumbuhan yang ditemukan di gua Oregon dan sekitarnya.
Kombinasi artefak ini memperkuat interpretasi dalam penelitian arkeologi Pleistosen bahwa manusia telah mengembangkan pakaian jahit tertua secara sistematis.
Keberadaan jarum tulang bermata halus turut mengindikasikan bahwa pakaian pada masa artefak Zaman Es memiliki dimensi sosial.
Para peneliti menilai pakaian jahit tertua bukan hanya alat proteksi, tetapi juga sarana ekspresi dan identitas.
Menariknya, jarum tulang bermata tidak lagi ditemukan dalam lapisan arkeologi setelah akhir Younger Dryas.
Fenomena ini menunjukkan perubahan kebutuhan teknologi berpakaian seiring perubahan iklim pasca artefak Zaman Es, termasuk kemungkinan berkurangnya penggunaan pakaian jahit tertua yang ketat.***






