Dari sisi teknis, Dr Leopold menjelaskan bahwa pencampuran etanol dengan bensin harus memenuhi standar mutu yang ketat. Salah satu syarat penting adalah kadar air pada etanol tidak boleh melebihi 0,3 persen volume per volume (v/v), karena etanol bersifat higroskopis atau mudah menyerap air dari udara.
“Jika kadar air terlalu tinggi, campuran bensin-etanol dapat mengalami pemisahan fasa yang berisiko menimbulkan korosi dan gangguan aliran bahan bakar. Permasalahan ini bisa diminimalkan bila kadar air campuran di bawah 0,15 persen m/m, sebagaimana diterapkan pada E5,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penyusunan **standar operasional prosedur (SOP)** yang lebih ketat untuk menjamin kualitas bahan bakar E10. “Karena kandungan bioetanol yang lebih tinggi, SOP ini penting untuk menjamin perubahan kualitas bahan bakar—terutama penyerapan air dari udara lembap—seminimal mungkin sehingga sampai pada konsumen dengan aman,” ujar Dr Leopold.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa penggunaan bahan bakar berbasis bioetanol juga perlu memperhatikan aspek penyimpanan dan masa pakainya. “Memang ada isu juga saat pemakaian di konsumen, sebagaimana isu pada biodiesel, agar jangan terlalu lama bahan bakar tidak digunakan di tangki mobil yang memungkinkan hal di atas terjadi,” katanya.
Meski memiliki nilai kalor lebih rendah dibanding bensin murni, bioetanol justru menawarkan keunggulan lain, yaitu angka oktan yang tinggi. Hal ini membuat bahan bakar campuran seperti E10 mampu meningkatkan performa mesin berkompresi tinggi.
“Kendaraan modern dengan rasio kompresi besar justru diuntungkan dengan bahan bakar ber-RON tinggi seperti E10,” tutur Dr Leopold.
Dengan berbagai potensi dan tantangan tersebut, kebijakan E10 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat arah transisi energi hijau di Indonesia. Asalkan disiapkan dengan matang, mulai dari riset bahan baku, infrastruktur distribusi, hingga sosialisasi kepada konsumen, Indonesia berpeluang menjadi salah satu negara terdepan di kawasan dalam pemanfaatan bahan bakar rendah emisi berbasis bioetanol. (Nicko)




