Modul SETARA dirancang untuk menyesuaikan dengan tantangan remaja masa kini, mencakup topik-topik seperti perundungan, pubertas, kekerasan, dan kesehatan reproduksi. Program ini diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka dan disarankan masuk ke dalam perencanaan sekolah untuk mendukung pelaksanaan P5.
Menurut Agus Nurdin, Ketua Yayasan SEMAK, modul ini bisa diterapkan melalui pelajaran Bimbingan Konseling atau kegiatan pembiasaan di sekolah. Ia juga menyarankan agar pelaksanaannya dilakukan melalui P5 dengan tema “Bangunlah Jiwa dan Raganya”.
Agus menambahkan bahwa pihaknya akan terus melakukan pendampingan, monitoring, dan evaluasi bersama pengawas pendidikan untuk memastikan pelaksanaan Modul SETARA berjalan sesuai standar. Selain itu, kajian akan dilakukan untuk mengembangkan modul ini agar lebih relevan dengan kebutuhan sekolah, terutama di madrasah yang berada di bawah Kementerian Agama.
Tatang Rahman, Program Manager Power to You(th), memberikan apresiasi terhadap Kabupaten Garut yang antusias mendukung implementasi Modul SETARA. Ia menyatakan bahwa partisipasi aktif dari berbagai pihak di Garut menunjukkan kesadaran tinggi akan pentingnya menciptakan generasi muda yang sehat dan bermartabat.
Dalam pelatihan ini, pengawas pembina SMP dan guru-guru dari Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Garut turut dilibatkan. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam menerapkan Modul SETARA, serta kebijakan literasi pencegahan kekerasan di sekolah.
Pengawas Pembina Enang Cuhendi menekankan pentingnya kerja sama antara kepala sekolah, guru, dan pengawas dalam melaksanakan program PKRS. Ia juga menyadari bahwa tidak semua sekolah memahami sepenuhnya pentingnya PKRS, sehingga pelatihan ini diadakan untuk menyamakan persepsi.
Ia juga menambahkan bahwa tantangan lain dalam penerapan PKRS adalah kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya program ini bagi anak-anak, terutama dalam hal kesehatan reproduksi.





