Berita UtamaHukum

Satgassus Tipikor Mabes Polri Turun ke Sulawesi, Ada Apa?

×

Satgassus Tipikor Mabes Polri Turun ke Sulawesi, Ada Apa?

Sebarkan artikel ini
satgassus tipikor mabes polri
Satgassus Tipikor bergerak di Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, guna monitoring dan evaluasi (monev) proyek peningkatan dan pemeliharaan jaringan Irigasi Tersier yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2022-2024. (Ist)

Di RSUD Poso, katanya, Satgassus mengadakan pertemuan dengan PPK, Inspektorat, Pelaksana serta Pengawas Proyek.

Sementara itu, pihak PT akan melakukan pemasangan CCTV di lokasi proyek dan menugaskan konsultan independen, untuk memonitor secara langsung progres pekerjaan pembangunan RSUD Poso.

Melangkah di Pasar Bontorea, Gowa, lanjutnya, sudah ramai pengunjung pada Pukul 03:00-06:00 pagi. Berbeda dengan Tahun sebelumnya, saat para pedagang belum bersedia untuk pindah lokasi berjualan, dari pinggir jalan ke Pasar tersebut.

Untuk pembangunan RSUD Galesong, yang pada pemantauan tahun lalu belum dapat beroperasi karena terkendala perijinan. “Saat ini sudah mulai beroperasi dan bisa melayani kebutuhan pelayanan kesehatan Masyarakat Kabupaten Takalar,” ujarnya.

Hanya saja, lanjutnya, untuk UMKM Desa Aeng Batu-batu, Kec. Galesong Utara, Kab. Takalar, masih terdapat beberapa kendala seperti atap bangunan yang hilang, akses jalan ditutup oleh warga, pompa air hilang dicuri serta toilet yang telah rusak sebelum dipergunakan.

Sedangkan untuk Proyek monev DAK Irigasi, beberapa proyek yang sudah mulai berjalan, di antaranya RJIT Tanah Dangkal, terdapat bangunan bak penampungan air dengan panel surya sebagai sumber tenaganya dengan pompa yang dapat bekerja sepanjang hari selama matahari menyinari.

“Sehingga mampu mengairi areal pertanian seluas lebih dari 3000 meter persegi dan yang terus berproduksi sepanjang tahun,” tuturnya.

Beberapa proyek yang masuk fase pencairan tahap pertama, namun masih terkendala, di antaranya proyek irigasi Tanabangka, Bajeng Barat. Karena sudah masuk musim kemarau, maka tidak ada air yang mengairi areal pesawahan.

Untuk menghadapi kekeringan akibat musim kemarau, katanya, petani menggunakan pompa irigasi air tanah dangkal hasil swadaya petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *