News

Nasrallah, Hizbullah dan Israel dalam Bayang-Bayang Perang

×

Nasrallah, Hizbullah dan Israel dalam Bayang-Bayang Perang

Sebarkan artikel ini
FotoJet 41
Hizbullah dan Israel memanas

KITAINDONESIASATU.COM – Dua puluh empat tahun silam, pada 26 Mei 2000, Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah, tiba di Bint Jbeil, Lebanon, dekat perbatasan Israel, sehari setelah pasukan Israel mundur dari Lebanon selatan usai bertahun-tahun menghadapi serangan dari Hizbullah.

Di depan ribuan pendukung, Nasrallah, yang saat itu berusia 39 tahun, menyampaikan pidato terkenal yang menyebut Israel “lemah seperti jaring laba-laba,” meskipun memiliki kekuatan militer besar.

Pidato ini memperkuat keyakinan Nasrallah bahwa perlawanan dapat mengalahkan kekuatan yang lebih kuat.

Sejak saat itu, Hizbullah berkembang menjadi kekuatan militer dan politik di Lebanon, meskipun retorika Nasrallah tetap sama.

Baca Juga  Pertempuran Sengit Israel-Hizbullah, Terjadi Pengungsian Massal Warga Lebanon

Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan antara Hizbullah dan Israel meningkat. Hizbullah meluncurkan serangan roket dan pesawat nirawak, sementara Israel merespons dengan serangan udara.

Nasrallah, yang dulunya berbicara di depan kerumunan besar, belakangan lebih sering tampil melalui layar televisi dalam acara-acara yang dikontrol ketat.

Meski dianggap sebagai wakil Iran, Hizbullah lebih dari sekadar sekutu Teheran; mereka adalah pemain utama di kawasan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Nasrallah terlibat dalam eskalasi konflik dengan Israel, yang semakin mendekati perang terbuka. Tindakannya di awal bentrokan lintas-perbatasan lebih banyak bertujuan meredakan tekanan terhadap Palestina di Gaza, tetapi juga menyentuh isu teritorial di perbatasan Lebanon, seperti wilayah Shebaa yang diklaim Israel.

Baca Juga  Khofifah-Emil Daftar, Muncul Luluk-Lukman, Rumor Risma-Setiaji

Kebijakan Nasrallah penuh ambiguitas, antara ancaman terhadap kota-kota Israel dan upaya menghindari perang besar.

Namun, serangan dari kedua belah pihak telah menimbulkan kerugian besar.
Hizbullah menargetkan kota-kota Israel dan Israel menyerang pejabat Hizbullah.

Nasrallah tampaknya menghitung bahwa tekanan dari masyarakat demokratis Israel akan memberinya keuntungan strategis.

Namun, situasi semakin tak terkendali, mempersempit peluang bagi keduanya untuk keluar dari krisis ini.

Latar belakang ideologis Nasrallah terbentuk dari pengalaman pribadi dan pengamatannya terhadap konflik di Palestina, mengajarinya bahwa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya cara menghadapi penjajahan.

Baca Juga  Israel dan Hizbullah Saling Serang, Netanyahu: Serangan terhadap Hizbullah Bukan Akhir dari Konflik

Namun, konflik dengan Israel tampaknya menjadi elemen penting bagi legitimasi Hizbullah dan eksistensinya di Lebanon.

Dengan krisis ekonomi di Lebanon, Hizbullah dan Israel kini menguji batas toleransi masing-masing, yang terus meningkat seiring dengan eskalasi konflik di Gaza.- ***

Sumber: The Guardian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *