Jika tidak segera mendapat penanganan medis, korban bisa mengalami kelumpuhan dan berujung pada kematian dalam waktu 12–24 jam setelah gigitan.
Uniknya, gigitan ular weling sering tidak menimbulkan luka atau bengkak mencolok, sehingga gejala keracunan bisa muncul tanpa tanda fisik yang jelas.
Peneliti dari LIPI menegaskan bahwa bisa ular weling bahkan lebih mematikan daripada ular kobra.
Sayangnya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki antibisa khusus untuk ular weling, sehingga penanganan medis menjadi sangat krusial dan harus dilakukan secepat mungkin.
Habitat dan Perilaku Ular Weling
Ular weling adalah ular nokturnal yang aktif berburu di malam hari. Mereka dapat beradaptasi di berbagai habitat, mulai dari hutan, semak belukar, perkebunan, lahan pertanian, hingga permukiman manusia.
Ular ini memangsa tikus, katak, kadal, bahkan ular lain. Meski cenderung pemalu dan menghindari manusia, ular weling bisa menjadi agresif jika merasa terancam dan tak segan menggigit.
Mitos dan Fakta di Masyarakat
Ular weling kerap dikaitkan dengan berbagai mitos di masyarakat, seperti pertanda kehilangan anggota keluarga atau musibah.
Namun, fakta ilmiah menunjukkan bahwa ancaman utama dari ular ini adalah racunnya yang sangat mematikan, bukan sekadar mitos.


