“Setelah berjuang antre sejak pagi, akhirnya bibi saya bisa membeli dua tabung gas. Namun, tak lama setelah itu, sebelum sampai di rumah, bibi saya pingsan di jalan,” kata Raya.
Sebelum pingsan, menurut Raya, Yonih sempat beristirahat di sebuah tempat laundry yang berada dekat pangkalan gas elpiji. Ia merasa sangat lelah setelah berjam-jam mengantre.
“Setelah mendapat kabar dari orang sekitar, Robby (kerabat Raya) segera menjemput bibi saya di tempat laundry. Ketika sampai, ternyata bibi saya sudah pingsan,” tambah Raya sambil menahan tangis.
Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg Memperburuk Keadaan
Tragedi ini memperburuk masalah kelangkaan gas elpiji 3 kg yang telah menjadi isu di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Tangerang Selatan.
Gas melon, yang seharusnya menjadi solusi bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk kebutuhan memasak, kini semakin sulit didapat.
Banyak warga yang harus mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan tabung gas, sementara harga yang melambung semakin menambah beban.
Kejadian ini menambah daftar panjang keluhan warga terkait kelangkaan gas elpiji 3 kilogram yang semakin sulit ditemukan di berbagai agen dan pedagang gas keliling.


