KITAINDONESIASATU.COM – Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang tiga provinsi di Pulau Sumatera—Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar)—sejak akhir November 2025 telah menimbulkan kerugian jiwa dan materi yang masif. Data terbaru per Minggu (30/11/2025) menunjukkan bahwa total korban meninggal dunia di tiga wilayah tersebut mencapai 303 jiwa, sementara lebih dari 50.000 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Sumatera Utara menjadi wilayah paling parah dengan angka korban meninggal tertinggi, mencapai 166 jiwa. Bencana di Sumut, yang melanda Sibolga dan Tapanuli, juga menyebabkan lebih dari 20.000 warga harus mengungsi. Tim SAR menghadapi kendala besar dalam pencarian korban hilang yang diperkirakan masih mencapai ratusan orang, dengan kondisi akses yang terputus total.
Di Sumatera Barat, lonjakan jumlah korban jiwa tercatat mencapai 90 orang. Daerah Kabupaten Agam menjadi titik fokus evakuasi karena tanah longsor skala besar yang menimbun pemukiman. Total pengungsi di Sumbar diperkirakan mencapai 15.000 orang, banyak di antaranya adalah lansia dan anak-anak yang kini kekurangan logistik dasar.
Sementara itu, di Aceh, 47 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir bandang yang merendam 16 kabupaten/kota. Lebih dari 15.000 warga Aceh mengungsi, dan sebagian besar fasilitas publik seperti sekolah dan puskesmas tidak dapat berfungsi karena terendam air atau tertimbun material longsor.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menetapkan status darurat bencana di tiga provinsi ini dan mengerahkan personel gabungan dari TNI, Polri, dan relawan untuk mempercepat proses evakuasi.
Kepala BNPB, Suharyanto, menyatakan bahwa prioritas utama adalah pencarian korban hilang dan distribusi bantuan logistik ke posko pengungsian, mengingat tingginya kebutuhan akan makanan siap saji, air bersih, selimut, dan obat-obatan.
Pemerintah pusat juga tengah menyiapkan bantuan dana tanggap darurat untuk pemulihan infrastruktur vital yang lumpuh.(*)


