KITAINDONESIASATU.COM-Warga di Kecamatan Cikande dan Kecamatan Kibin khususnya yang dekat dengan lokasi radiasi nuklir mulai resah dan waswas (ketakutan). Mereka khawatir bakal terkena dampak kesehatan dan dampak ekonomi akibat temuan radiasi nuklir di wilayah mereka.
Ada sebanyak tujuh sampai delapan titik areal yang terindikasi terpapar radiasi nuklir. Tiga lokasi berada di areal perusahaan, sementara titik lainnya berada di lapak barang bekas, jalan hingga lahan kosong yang dekat dengan pemukiman warga.
Kabiro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten, Ishak, menyebut pemantauan dilakukan hingga radius lima kilometer dari titik temuan awal. “Dari hasil monitoring, ditemukan beberapa lokasi lain yang menunjukkan paparan radiasi cukup tinggi,” ujarnya.
Atas temuan tersebut, warga yang tinggal di dekat areal radiasi mulai waswas, karena sampai saat ini belum ada sosialisasi yang disampaikan pihak terkait mengenai bahaya radiasi nuklir hingga apakah areal yang terpapar radiasi bisa meluas akibat cuaca.
Staf Desa Sukatani, Ja’i mengungkapkan, salah satu dampak yang sudah terasa di masyarakat yaitu perekonomian. Saat ini, warga Desa Sukatani yang bekerja di PT Bahari Makmur Sejati (BMS) dirumahkan setelah adanya penyegelan lokasi yang terindikasi tercemar zat radioaktif.
“Dampak yang sudah terasa ya pengangguran bertambah, karena ada puluhan warga Desa Sukatani yang bekerja di PT BMS dirumahkan sampai waktu yang belum diketahui,” kata Ja,i.
Masih kata Ja’i, karyawan PT BMS banyak dari warga warga Desa Sukatani dan Desa Barengkok, Kecamatan Kibin. “Bahkan banyak juga yang dari kecamatan lain seperti Pamarayan dan daerah lain di Kabupaten Serang yang bekerja di PT BMS,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga khawatir dengan kondisi cuaca yang memasuki musim hujan. Khawatir air dari daerah yang tercemrah zat radioaktif mengalir ke permukiman warga. “Khawatir masalah air juga sih. Sosialisasi ke lingkungan belum ada, hanya ada penjelasan saat penyegelan saja,” ujar Ja’i.
Dampak pada sektor perekonomian juga diungkapkan Kepala Desa Barengkok, Laelah Susilawati. Dengan diliburkannya operasional PT BMS membuat perekonomian warga disekitar perusahaan mulai terganggu, karena mayoritas warga Desa Barengkok bekerja di PT BMS. “Enggak bisa kerja, karena warga di sini banyak yang kerja di perusahaan udang beku (PT BMS). Jumlahnya ada ratusan warga Barengkok yang bekserja di pabrik udang,” ujarnya.
Selain itu, banyak juga kontrakan-kontrakan yang sebelumnya sewa para pekerja yang berasal dari luar Desa Barengkok yang mulai ditinggalkan. “Kontrakan pada kosong karena sudah tidak ada yang bekerja. Saat ini seluruh karyawan sudah tidak ada yang masuk sejak dilakukan penyegelan,” ungkap Laelah. (*)

