KITAINDONESIASATU.COM-Siapa yang tak tahu Jalaluddin Rumi? Namanya kondang hingga Abad Informasi saat ini: penyair-teolog-sufi. Syair-syairnya banyak dikutip. Misal, “Luka adalah tempat di mana cahaya memasuki dirimu.” Kata-kata itu berlalu delapan abad silam, karena Rumi hidup tahun 1207-1273. Satu lagi legacy Rumi yang fenomenal adalah tarian sufi: whirling dervish, penuh mistik. Gerakannya berputar-putar sampai trance.
Tarian ini tercipta tatkala Rumi dirundung kesedihan saat gurunya, Syamsuddin At-Tabrizi – seorang penyair sufi pengembara – menghilang misterius. Diduga dibunuh karena ada yang cemburu melihat kedekatan hubungan guru-murid itu. At-Tabrizi-lah yang mengubah hidup Rumi, dari teolog menjadi sufi. Tak heran, Rumi sangat kehilangan. Terpukul. Ia menari berputar-putar mengekspresi kepedihannya. Konon ia menari hingga tiga hari tiga malam.
Tarian sufi berputar ke kiri, berlawanan arah jarum jam. Dalam tarian itu dilantunkan syair-syair puitis. Tarian sufi berisi puji-pujian, syair, shalawat, atau puisi-puisi Rumi. Dikenal juga sebagai tarian sama/sema (mendengar). Sebuah proses latihan khalwat atau kontemplasi: melepaskan ego dan emosi. Sebuah jalan spiritual, mendekatkan diri kepada Tuhan. Berdzikir sebagai rasa cinta kepada Allah. Inilah cara seorang sufi meluapkan isi di hatinya, tidak seperti sekarang di-upload di medsos.
Tarian sufi ini menjadi aliran tarekat Maulawiyah bentukan putranya, Sultan Walad, pada abad ke-13 di Konya. Inilah warisan Jalaluddin Muhammad Balkhi atau Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin Al-Khattabi Al-Bakri. Lahir di Balkh, wilayah Persia, yang saat ini masuk wilayah utara Afghanistan. Ia belajar spiritualisme pada ayahnya Bahauddin Walad dan teman ayahnya, Sayid Burhanuddin. Saat kanak-kanak, menghindari invasi Kerajaan Mongol, Rumi diboyong keluargnya pindah ke Samarkand (Uzbekistan) lalu ke Konya (kini di Anatolia, Turki) di wilayah Rum (wilayah Kesultanan Seljuk atau Kesultanan Rum). Dari sini dapat dipahami bagaimana nama Rumi dibatalkan. (Dr M Subhan SD)

