KITAINDONESIASATU.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berencana melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung upaya penanganan dan pemulihan pasca-bencana banjir bandang dan longsor di wilayah Sumatera. Langkah strategis ini diambil untuk mengurangi intensitas hujan yang terus menerus memicu bencana susulan dan menghambat operasi tim penyelamat di lapangan.
Kepala BNPB Suharyanto menyatakan bahwa kondisi cuaca di Sumatera, khususnya di wilayah terdampak parah seperti Sumatera Utara, menjadi tantangan terbesar bagi tim penanggulangan bencana. Hujan lebat meningkatkan risiko longsor susulan, tetapi juga sangat menyulitkan tim gabungan untuk mengevakuasi korban hilang dan mengirimkan bantuan logistik ke daerah-daerah terisolasi.
Suharyanto mengungkapkan hal tersebut dalam rapat darurat via zoom dengan Menko PMK Pratikno. Dia mengatakan operasi pencarian dan penyelamatan korban akan menjadi fokus utama, seperti yang telah dilakukan pada penanganan bencana di Cilacap dan Banjarnegara belum lama ini.
Disebutkan, operasi pencarian dan pertolongan akan menjadi prioritas utama. Termasuk pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.
OMC akan dilakukan melalui penyemaian material higroskopis, seperti garam (NaCl), ke dalam awan potensial hujan. Tujuannya adalah untuk mempercepat jatuhnya hujan di lokasi yang jauh dari area bencana utama. Dengan demikian, intensitas curah hujan di wilayah rawan, seperti titik longsor dan pemukiman yang terendam, dapat ditekan secara signifikan.
Dalam pelaksanaan TMC, BNPB akan bekerja sama secara erat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk analisis data cuaca yang akurat. Selain itu, TNI Angkatan Udara (TNI AU) akan memberikan dukungan pesawat dan personel untuk operasional penyemaian awan.
Semtera itu, Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Diana Kusumastuti, menyatakan, rupaya identifikasi kerusakan infrastruktur masih terkendala hujan yang belum berhenti. Empat jembatan dilaporkan terputus di Aceh, sementara di Sibolga dan Tapanuli Tengah terdapat sekitar 20 titik longsor yang masih sulit dipetakan.
Kementerian PUPR telah mengirimkan alat berat untuk membersihkan material longsoran dan membuka akses, dengan harapan dapat segera mencapai lokasi terdampak.(*)


