Berita Utama

Sosok Soesalit Djojoadhiningrat, Anak Pahlawan yang Hidup Terlantar!

×

Sosok Soesalit Djojoadhiningrat, Anak Pahlawan yang Hidup Terlantar!

Sebarkan artikel ini
Kartini, ibunda Soesalit Djojoadhiningrat. (Ist)
Kartini, ibunda Soesalit Djojoadhiningrat. (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Raden Ajeng Kartini adalah nama besar, yang diperingati hari kelahirannya setiap tanggal 21 April. 

Pahlawan perempuan Indonesia ini lahir dari pasangang bangsawan Raden Mas Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah.

Kartini dipinang menjadi selir Raden Adipati Joyodinigrat. Dari perkawinannya, mereka memiliki anak lelaki Soesalit Djojoadhiningrat.

Perempuan Jepara ini terkenal, setelah  surat-surat yang ia tujukan kepada Ny Abendanon dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah”.

Tak sebanding dengan ibu, Soesalit tak begitu populer. Nama veteran tentara ini hilang ditelan zaman. Ia berakhir hidup dalam kesederhanaan, kalau tidak mau disebut hidup melarat.

Soesalit memilih hidup seperti rakyat jelata, melulu karena pilihan sendri. Ia sebenarnya berhak menggantikan ayahnya sebagai bupati, namun ditolaknya.

Ia lebih memilih masuk tentara, pada 1943. Dia dilatih oleh tentara Jepang dan kemudian tergabung sebagai tentara Pembela Tanah Air (PETA). 

Ketika Indonesia merdeka, Soesalit bergabung di Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Republik Indonesia. 

Dari sini, karier Soesalit sempat bagus. Ia kerap terlibat dalam beberapa pertempuran melawan Belanda yang lantas membuatnya cepat naik pangkat. 

Begitu juga namanya yang makin terkenal. Puncak kesuksesan sebagai tentara terjadi, pada 1946. Dirinya diangkat menjadi Panglima Divisi II Diponegoro yang memimpin pasukan terpenting karena bertugas menjaga ibukota negara di Yogyakarta.

Bahkan, dia juga pernah beberapa kali memegang jabatan sipil. Salah satunya sebagai penasehat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastro pada 1953.

Atasan Soesalit, Jenderal AH Nasution, menjadi saksi bagaimana dia memang tak mengumbar nama orang tua. 

Nasution melihat ketika tak lagi bertugas, Soesalit lebih memilih hidup melarat sebagai veteran. Dia tak meminta hak-haknya sebagai veteran. 

“Padahal, Soesalit bisa saja hidup senang berkat jabatan dan  nama ibunya. Tapi, hal itu tidak ia lakukan,” kata Jenderal Nasution, seperti dikutip dari buku berjudul “Kartini: Sebuah Biografi” karangan Sitisoemandari Soeroto, yang terbit pada 1979.

Akibat prinsip ini, pria kelahiran Rembang ini tetap melarat sampai tutup usia pada 62 tahun lalu, tepatnya pada 17 Maret 1962. 

Ia dimakamkan tanpa upacara dentuman Meriam, seperti biasa dilakukan terhadap tokoh-tokoh bangsa. (Aris MP/Yo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *