KITAINDONESIASATU.COM – Berikut ini isi surat seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang nekat mengakhiri hiduonya disebuah kebun milik neneknya di Desa Nenowea, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis, 29 Januari 2026.
Anak tersebut adalah seorang siswa Sekola Dasar (SD) diduga bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan alat pena, hingga viral dimedia sosial hingga saat ini.
Bahkan peristiwa mengundang perhatian akademisi Rocky Gerung, di media sosial yang dikutip Rabu (4/2/2026), Rocky menyebut tragedi tersebut sebagai sinyal kuat adanya persoalan serius dalam kehidupan bernegara.
Rocky juga menyoroti cerita tentang permintaan korban kepada ibunya untuk membeli sebuah buku yang tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi.
Berikut ini isi surat yang ditulis seorang anak berinisial YBS (10) itu:
Menurut terjemahan warga surat bertuliskan bahasa Bajawa, kira-kira maksutnya seperti ini:
Kertas untuk Mama Reti
Mama terlalu pelit.
Mama baik sudah.
Kalau saya mati, mama jangan menangis.
Mama, kalau saya mati, jangan cari saya.
Selamat tinggal mama.
Ibu kandung YBR (10), Maria Goreyti Te’a menceritakan hari-hari terakhir sebelum peristiwa tragis itu terjadi.
Saat itu Yohanes panggilan YBR mengeluh pusing dan tak mau berangkat ke sekolah, karena sang takut anaknya tertinggal pelajaran lalu minta ojek mengantarkan anaknya.
Namun siang harinya kabar duka datang tanpa ada peringatan dan bak disambar petir di siang bolong setelah mendengar berita duka itu memecah telinga keluarga mereka.
YBR merupakan anak paling kecil dari 5 bersaudara, sejak usia 1 tahun 7 bulan dia tidak tinggal bersama sang ibu tetapi diasuh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu.
Ayah merantau ke Kalimantan sejak 11-12 tahun lalu dan tak pernah kembali hingga saat ini, bocah siswa SD ini suka membantu nenek menjual sayur, ubi hingga kayu bakar.
Untuk makan sehari-hari mengandalkan kebun seadanya dengan pisang dan ubi sebagai menu utama di dalam rumah kecil itu.
Namun ironisnya keluarga ini tercatat tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah baik bantuan rumah layak huni, pendidikan maupun bantuan sosial lainnya.
Dari lima saudaranya hanya dua anak saja yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan, yang tak pernah mengenal pendidikan.
Dilansir dari tribunsorong.com, YBR menganyam pendidikan kelas IV SDN Rotowaja, Desa Nenawea, Kecamatan Jerebu, Ngada, NTT, ia ditemukan meninggal dunia di atas pohon cengkeh Kamis, 29 Januari 2026 siang.
Korban ditemukan oleh warga mengenakan seragam sekolah untuk olahraga berwana merah dengan ditemukan secarik kertas berisi pesan untuk mamanya. **


