Mereka bangun tengah malam, mengatur jadwal kerja, atau bahkan menonton di tempat-tempat umum hanya untuk mendukung tim kebanggaan mereka.
Ada yang mengibarkan bendera Persib di balkon apartemen di luar negeri, ada pula yang menggelar nonton bareng di kafe Indonesia di Tokyo atau Kuala Lumpur.
Jangan heran jika seorang pemain Persib keturunan Indonesia Eliano Reijnders menyebut, Bobotoh Bandung lebih gila dari fans bola di negaranya!
Malam Terakhir yang Legendaris
Puncak drama terjadi pada laga terakhir melawan Persijap Jepara.
Malam itu, Jawa Barat seolah berhenti bernapas. Jalanan di Bandung, Cimahi, Tasikmalaya, Cirebon, Sumedang, Garut, Ciamis hingga Bogor menjadi sepi. Toko-toko tutup lebih awal.
Warung makan sepi. Semua orang berkumpul di depan layar—entah di rumah, di lapangan desa, di kafe, atau di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.
Suasana tegang luar biasa. Ketika wasit meniup peluit panjang dan Persib dinyatakan sebagai juara, dalam hitungan detik, keheningan berubah menjadi ledakan kegembiraan.
Jalanan yang tadinya sepi tiba-tiba dipenuhi konvoi motor dan mobil. Sorak-sorai “Persib! Persib!” menggema di mana-mana.
Kembang api meledak, suara klakson membahana, dan ribuan Bobotoh turun ke jalan dengan mengibarkan bendera Maung Bandung.
