KITAINDONESIASATU.COM – Riya atau pamer berasal dari bahasa Arab ra’a-yara-ruyan-wa ru’yatan yang artinya melihat. Jadi, istilah riya adalah memperlihatkan diri kepada orang lain agar ucapan, sikap, tulisan, maupun amal perbuatannya diketahui.
Istilah lain Riya di zaman sekarang ini sering disebut pencitraan. Setiap manusia umumnya pernah memiliki sifat riya, dan terkadang atau bahkan mempratikkannya. Ini merupakan naluri dasar manusia, akan tetapi agama Islam mewanti-wanti sifat riya yang merupakan penyakit hati.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengklasifikasikan empat perbuatan manusia yang termasuk ke dalam perbuatan riya, yakni:
- Malas Saat Sendirian
Banyak orang yang berperilaku baik ketika berada di tempat umum, namun sebaliknya jika sedang sendirian. Benar yang dikatakan para ulama bahwa manusia akan sanggup tidak bermaksiat ketika di khlayak ramai.
Contohnya, ketika tengah sendiri orang akan bermalas-malasan untuk beribadah, menunda-nunda ibadah atau pekerjaan kantor. Bahkan, melakukan maksiat menonton film dewasa saat sedang sendirian.
- Rajin Saat Banyak Orang
Ini disebut juga dengan pencitraan. Ya, ketika di hadapan umum sangat rajin demi untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Sebaliknya bila satu hari saja tidak tampil, ia merasa ada yang kurang di dalam dirinya. Jadi, cukup hanya Allah SWT yang memuji bukan manusia.
- Amalnya Meningkat Ketika Dipuji
Sifat dasar manusia dikala dipuji akan sangat senang, dan sebaliknya ketika dicaci akan sedih. Sifat ini tidak akan hilang bila tidak mengubah sudut pandangnya terhadap penilaian.
Misalkan, pengguna media sosial saat memposting barang-barang branded miliknya, kemudian dipuji di kolom komentar oleh netizen dengan kata-kata indah, maka ia akan membalasanya dengan kata-kata yang indah. Sebaliknya, apabila dikomentari buruk, maka ia akan membalasnya dengan komentar buruk, bahkan mendoakan yang jelek.
- Amalnya Menurun Ketika Dicaci
Umumnya sifat manusia akan senang kala dipuji, sebaliknya ketika dicaci akan melemahkan mental seseorang. Berbeda dengan orang yang cuek dan ikhlas tidak menghiraukan pujian atau cacian manusia. Oleh karenanya kita harus yakin dengan perintah Allah SWT, sehingga tidak memedulikan apa pun perkataan orang lain terhadap kita. (*)

