-Melakukan intervensi di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
-Menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) untuk meredam gejolak yang lebih dalam.
-Mendorong kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
Anjloknya nilai tukar rupiah ke level Rp 17.200 per dolar AS merupakan sinyal peringatan bagi perekonomian Indonesia.
Berbagai sektor bisnis akan merasakan dampaknya, terutama yang bergantung pada impor dan investasi asing.
Dengan langkah-langkah strategis dari pemerintah dan Bank Indonesia, diharapkan stabilitas ekonomi dapat segera dipulihkan untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang negara.***





