Berdasarkan preseden disiplin FIFA, tindakan seperti ini umumnya menghasilkan minimal dua atau tiga laga skorsing.
Namun Komite Disiplin FIFA menilai kasus Ronaldo hanya layak diberi sanksi satu pertandingan, yang sebenarnya sudah ia jalani.
Keputusan itu memicu kecaman luas, terutama karena insiden tersebut terjadi setelah sebelumnya Ronaldo terlibat benturan lain dengan pemain yang sama.
Meski Portugal menang 9-1 atas Armenia tanpa Ronaldo, banyak analis tetap menilai bahwa sang megabintang seharusnya absen di Piala Dunia sebagai konsekuensi tindakan menyikut tersebut. Alih-alih, ia justru sah untuk tampil pada laga perdana, membuat publik mempertanyakan standar hukuman FIFA.
FIFA beralasan bahwa catatan disiplin Ronaldo yang bersih di timnas turut menjadi pertimbangan utama. Namun keputusan itu memunculkan perdebatan besar soal konsistensi, transparansi, dan dugaan bahwa keputusan diambil bukan demi keadilan, melainkan untuk kepentingan komersial.
Ledakan Kemarahan di Media Sosial
Platform X (Twitter) dipenuhi komentar pedas dari penggemar di seluruh dunia:






