Bermain sebagai bek kanan, Jangeal tampil percaya diri meski menghadapi intensitas tinggi dari tim tamu. “Saya memberikan segalanya,” kata pemain 19 tahun itu. “Ini momen yang akan selalu saya kenang. Bermain untuk klub yang saya cintai, di depan fans Parc des Princes… rasanya luar biasa.”
Reaksinya pun langsung dibanjiri dukungan dari penggemar di media sosial, yang menyebutnya sebagai “wajah masa depan Les Rouge et Bleu.”
Kemenangan ini juga penting karena PSG sukses menjaga clean sheet untuk pertandingan kedua berturut-turut di semua kompetisi.
Pertahanan rapat, koordinasi antarlini yang baik, dan pengelolaan tempo oleh gelandang membuat Auxerre nyaris tidak memiliki peluang berbahaya.
Namun, kabar kurang menggembirakan datang dari kondisi Vitinha dan Khvicha Kvaratskhelia, yang ditarik keluar lebih awal sebagai tindakan pencegahan. Tim medis masih memantau kondisi mereka demi persiapan laga Liga Champions berikutnya.
Dengan gol Illia Zabarnyi dari bola mati dan penampilan apik kolektif tim, PSG membuktikan bahwa mereka bisa bangkit dari kekecewaan dengan kepala tegak. Kemenangan atas Auxerre bukan sekadar formalitas—ia adalah sinyal bahwa mental juara masih hidup.
Luis Enrique kini berharap momentum ini bisa terus dibawa ke pertandingan-pertandingan krusial mendatang. Karena bagi PSG, debut Mathis Jangeal di PSG bukan hanya tentang satu pemain muda—tapi simbol regenerasi yang sedang berjalan dengan sempurna.

