Yanuar, seorang pengemudi angkutan penumpang umum berplat kuning di Banjarmasin, merasa bersyukur karena masih bisa mendapatkan BBM bersubsidi.
“Setidaknya ini membantu mengurangi biaya operasional untuk kebutuhan BBM harian,” kata Yanuar, yang menghabiskan sekitar 10 liter pertalite sehari.
Udi, pengemudi ojek online (ojol) di Banjarbaru, menegaskan bahwa meskipun mereka menggunakan kendaraan pribadi, mereka tetap berhak mendapatkan BBM bersubsidi.
“Meskipun kendaraan ini pribadi, bukan berarti saya mampu secara materi. Kendaraan ini saya beli dengan kredit, menyisihkan penghasilan dari mengojek,” jelasnya.
Reaksi juga datang dari Perwakilan Driver Online Kalimantan Bersatu (DOKB) terkait wacana pemerintah mengubah aturan subsidi BBM. Jhon, perwakilan DOKB, mengatakan bahwa wacana tersebut lebih ditujukan untuk kendaraan roda dua, bukan untuk mereka yang menggunakan roda empat.
Namun, Jhon menegaskan bahwa pihaknya tetap akan membahasnya, seperti yang pernah terjadi ketika isu penghapusan pertalite muncul. Perwakilan pengemudi roda empat di Jakarta bahkan sempat bertemu dengan Kementerian Perhubungan untuk membahas subsidi BBM.
“Infonya, kementerian masih menyusun teknisnya untuk realisasi subsidi BBM tersebut,” kata Jhon.
Rahmad Hidayat, pengemudi Gojek dari Antasan Kecil Barat, mengungkapkan keluhan terkait wacana pemerintah untuk merombak aturan subsidi BBM.
“Dengan penghasilan sekitar Rp 100 ribu sehari, saya sangat membutuhkan BBM bersubsidi. Dari Rp 100 ribu, Rp 30 ribu untuk beli pertalite. Jika harus menggunakan pertamax, pengeluaran semakin besar. Pemerintah seharusnya mempertimbangkan dampaknya. Apakah mereka berencana menaikkan tarif kami jika subsidi dihapus?” keluhnya.




