Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga telah melaksanakan dua kali Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yaitu Tahap I pada 7-9 Desember dan Tahap II pada 13-16 Desember. Nantinya, OMC akan dilanjutkan sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggaran.
Pejabat EselonI Satu ini juga mengatakan, operasi ini bertujuan mengurangi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Jakarta, serta menurunkan risiko banjir dan genangan. Seperti pada OMC Tahap l, terbukti mampu mengurangi intensitas hujan hingga 67 persen di beberapa wilayah Jakarta.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas SDA Provinsi DKI Jakarta Ika Agustin mengungkapkan, durasi terjadi rob dapat bervariasi dari beberapa faktor, seperti siklus pasang surut, topografi wilayah, dan kondisi cuaca. Ia mengatakan, durasi tersebut berlangsung sekitar dua hingga enam jam setiap terjadi air pasang.
“Kondisi rob ini juga dipengaruhi faktor topografi wilayah. Seperti di wilayah pesisir dengan permukaan tanah rendah atau di bawah permukaan laut, air rob bisa terperangkap lebih lama,” terang Ika.
“Sehingga, kami mengoptimalkan operasional pompa stasioner maupun mobile untuk dapat mengalirkan air dan optimalisasi saluran drainase agar air dapat mengalir dengan lancar,,” pungkasnya menambahkan.
Sebagai informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi tingkat risiko banjir rob yang tinggi diperkirakan berlangsung hingga periode 20 Desember 2024 mendatang. (Aldi/Yo)
