Kekuatan ini diperkuat oleh 290 personel dari instansi mitra, mencakup TNI, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Perhubungan, hingga Dinas Kesehatan, memastikan aspek keamanan, lalu lintas, dan medis tercover secara komprehensif.
Filosofi “Nol Toleransi” dan Belajar dari Masa Lalu
Wakil Kapolda Jawa Barat, Brigjen. Pol. Adi Vivid Agustiadi Bachtiar, menegaskan bahwa operasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan mandat serius untuk melindungi integritas turnamen.
Dalam keterangan persnya pada Senin (21/9/2026), ia menekankan pendekatan preemptif dan preventif sebagai ujung tombak strategi pengamanan.
“Kami menyadari bahwa ajang berskala internasional ini membawa kebanggaan sekaligus tantangan besar bagi Jawa Barat. Melalui Operasi Garuda Bakti 2026, kami mengedepankan pencegahan, didukung penegakan hukum yang tegas. Kami tidak akan mentoleransi segala bentuk ancaman, mulai dari kejahatan jalanan, aksi premanisme, hingga potensi gesekan antarsuporter,” tegas Brigjen. Pol. Adi Vivid.
Ia juga secara implisit menyinggung pentingnya pembelajaran dari tragedi keamanan sepak bola di masa lalu (seperti insiden Kanjuruhan 2022), dengan menegaskan bahwa keselamatan pemain, ofisial, dan masyarakat adalah prioritas absolut yang tidak bisa ditawar.




