KITAINDONESIASATU.COM – Bintang sepakbola Brasil, Neymar sedang berjuang keras mengembalikan kebugaran performa fisiknya guna inginannya tampil di Piala Dunia 2026.
Namun kini Neymar sedang diterpa kekacauan performa yang buruk dan diterpa cedera yang tak kunjung pulih menyusul gaya hidupnya yang berantakan.
Bisakah Neymar mengatasi kendala kebugaran untuk berpartisipasi di Piala Dunia 2026 bersama Brasil?
Kisah kekacauan, cedera, dan ekspektasi ini mengulang skenario Romario pada tahun 2002.
Di Brasil , ada sebuah pepatah aneh yang sering dibisikkan: Masa-masa sulit terkadang bisa menjadi pertanda baik.
Pepatah ini menjadi penyemangat jiwa setiap kali Selecao (tim nasional Brasil) berada dalam krisis, sebuah pengingat bahwa kejayaan bangsa Samba sering kali ditempa dari kekacauan, bukan dari rencana yang stabil.
Sejarah telah membuktikan hal ini sejak Piala Dunia 1970, 1994, dan terutama 2002 –turnamen di mana Brasil berjaya di tengah kekacauan terbesar.
Dan sekarang, saat kita menatap Piala Dunia 2026, bayang-bayang masa lalu menghantui, tetapi kali ini tokoh utamanya bukanlah Romario, melainkan Neymar.
Perbandingan antara situasi saat ini dan tahun 2002 tak terhindarkan, Brasil juga telah berganti empat pelatih selama siklus ini, juga mengalami kegagalan besar di Copa America, dan kesulitan di babak kualifikasi.
Namun, yang paling menarik terletak pada kisah pribadi bintang ‘nakal’ yang berusaha menyeret kakinya yang lelah ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serika, Kanada dan Meksiko.
Saat itu, seluruh Brasil memohon kepada pelatih Scolari untuk memanggil Romario, sementara hari ini, semua mata tertuju pada Neymar dalam referendum enam bulan tentang performa dan sikapnya.
Realita bagi Neymar saat ini adalah gambaran yang beragam namun suram, setelah meninggalkan PSG dan mengalami mimpi buruk cedera di Al Hilal, kembalinya ke Santos pada Januari 2025 diharapkan menjadi sebuah kebangkitan.
Tetapi tidak ada tanda-tanda kebangkitan dan angka-angka tidak bisa berbohong, meskipun mencetak 11 gol dan memberikan 4 assist dalam 29 pertandingan, Neymar absen dalam 17 pertandingan karena cedera.
Dibandingkan dengan Romario, yang mencetak 40 gol pada usia 36 tahun, Neymar, yang mendekati usia 34 tahun, terlihat jauh lebih rapuh.
Cedera hamstring yang terus-menerus dan penurunan performa karena usia telah mengurangi kemampuan menggiring bola yang lincah yang pernah menjadi ciri khasnya.
Namun, sepak bola bukan hanya tentang statistik, Neymar masih memiliki momen-momen jenius, ia hampir seorang diri menyelamatkan Santos dari degradasi dengan keterampilan kelas atasnya.
Inilah mengapa legenda seperti Ronaldo dan Romario masih percaya bahwa Brasil tidak dapat memenangkan Piala Dunia tanpa dirinya.
Mereka berpendapat bahwa tidak ada seorang pun di generasi Vinicius Junior atau Rodrygo yang dapat menggantikan kreativitas dan pengaruh Neymar.
Namun masalahnya bukan hanya soal kakinya, tetapi sikap Neymar tetap menjadi topik kontroversial, konfrontasinya dengan para penggemar, mantan wasit wanita, dan perselisihannya dengan pelatih Juan Pablo Vojvoda di Santos membuat orang-orang sekelas mantan pelatih Luxemburgo kecewa.
Mereka percaya Neymar bukan lagi panutan dan bahwa tim nasional Brasil sekarang ini telah melewati era kejayaannya, generasi telah berjalan usia tidak bisa dikembalikan.
Di tengah badai opini publik, pelatih kepala Brasil, Carlo Ancelotti, tetap tenang dan terkendali.
Ia menegaskan bahwa pintu menuju Piala Dunia 2026 tidak pernah terkunci, tetapi kuncinya ada di tangan Neymar sendiri.
“Saya tidak berutang apa pun kepada siapa pun,” tegas Ancelotti sembari mengatakan ji ia hanya akan memilih pemain yang paling bugar.
Enam bulan ke depan akan menjadi periode yang menentukan bagi Neymar, akankah ia mampu meniru keajaiban Romario, atau akankah ia menjadi catatan suram dalam simfoni sepak bola Brasil yang kacau?
Pintu sedikit terbuka, tetapi untuk melangkah melewatinya, Neymar membutuhkan lebih dari sekadar ketenaran, ia membutuhkan keajaiban nyata dari kakinya sendiri dan fisiknya yang bugar seperti semula. **


