KITAINDONESIASATU.COM – Laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui publikasi World Urbanization Prospects 2025 menobatkan Jakarta sebagai kawasan metropolitan terpadat di dunia, menggeser posisi Tokyo. PBB memproyeksikan populasi Jakarta mencapai angka fantastis, yakni 42 juta jiwa.
Klaim PBB ini sontak menuai reaksi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengaku terkejut dan menyebut data tersebut perlu dilihat dari metodologi yang digunakan.
“Tiba-tiba populasi Jakarta sampai 42 juta kan? Wow, kami juga terkejut. Kalau peringkat 30 benar ,” ujar Pramono.
Ia menegaskan bahwa data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan populasi administratif Jakarta hanya sekitar 11 juta jiwa. Perbedaan mencolok ini, menurut Rano, kemungkinan besar terjadi karena PBB menghitung Jakarta sebagai wilayah aglomerasi Jabodetabek, yang mencakup penduduk dari Bogor, Depok, dan Bekasi yang beraktivitas harian di Ibu Kota.
Sementara itu, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, menjelaskan bahwa angka 42 juta tersebut menggunakan definisi PBB yang bernama Degree of Urbanization. Definisi ini mencakup orang yang menggunakan wilayah metropolitan setiap hari (daily movement), bukan hanya penduduk resmi yang terdaftar melalui Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Meskipun demikian, Rano mengakui bahwa laporan PBB tersebut menjadi indikasi kuat bahwa Jakarta adalah pusat pergerakan penduduk dan ekonomi bagi daerah penyangga, sehingga isu kepadatan tidak bisa ditangani oleh Jakarta sendirian dan membutuhkan kolaborasi regional.(*)

