KITAINDONESIASATU.COM – Di tengah riuhnya budaya ngopi, ART.I Coffe and Space yang beralamat di Jalan, Paledang No.50-52, Kota Bogor, tampil beda. Dari balik uap panas kopi yang disajikan, kedai ini menyeduh keberpihakan.
Melalui menu bernama “Palestino”, setiap cangkirnya menjadi simbol solidaritas terhadap rakyat Palestina. Seluruh keuntungan dari menu ini disumbangkan kepada korban konflik melalui lembaga kemanusiaan Action Humanity.
“Palestino itu gerakan secangkir keberpihakan. Dari harga Rp26.000 per cangkir, seluruh keuntungan disumbangkan ke Palestina lewat Action Humanity, sebuah NGO yang bantu penyaluran bantuan untuk korban konflik di Timur Tengah,” jelas Ruben Bentiyan, barista ART.I Coffe and Space, Rabu 28 Mei 2025.
Ia menyebut, donasi dari penjualan Palestino dikirim rutin setiap Jumat pertama di awal bulan.
Namun ART.I Coffe and Space bukan hanya tentang kopi. Kedai yang berdiri sejak 2020 ini telah menjelma menjadi ruang diskusi, tempat bertukar pikiran, hingga sarana perlawanan kultural. Gaya arsitektur dan menu yang diusung mengandung nilai-nilai sosial dan semangat keberbedaan.
“Dari segi tempat, kita pakainya konsep raw brutalism, industrial banget. Orang Sunda bilangnya BCA Bangunan Can Anggeus,” ujar Ruben.
“Tapi dalam arsitektur disebutnya ekobrutalism, karena kita gabungin bangunan industrial yang belum selesai itu dengan tanaman-tanaman alami,” sambungnya.
Ruben menjelaskan bahwa keusangan bangunan seperti retakan dan lumut dibiarkan sebagai bentuk penerimaan terhadap proses waktu.
“Selama masih aman untuk pelanggan dan tim, kita nggak akan renovasi. Renov hanya dilakukan kalau ada titik yang membahayakan,” tegasnya.
Di balik tembok berlumut itu, ART.I Coffe and Space menyajikan kopi spesialti dengan konsep transparansi.
“Bukan cuma kopi enak, tapi kopi yang transparan. Kita tahu siapa petaninya, siapa yang proses pasca panennya, siapa yang roasting, dan yang nyeduhnya, ya barista di sini,” jelas Ruben.
Kopi-kopi dari Puntang, Kerinci, Gayo, hingga Cibulau menjadi andalan kedai ini, lengkap dengan menyebut nama-nama petani seperti Pak Yon dan Pak Jum.
“Kami percaya bahwa kedai kopi itu tempat bertukar pikiran. Pikiran bisa jadi semangat, jadi motor gerakan. Dulu revolusi Perancis dimulai dari kedai kopi, bukan dari istana atau barak militer,” kata Ruben.
Semangat intelektual itu juga diwujudkan lewat program MBG atau Membaca Buku Gratis. “Makanya kami bikin program MBG supaya interaksi intelektual tetap hidup,” tambah Ruben.
Meski kental dengan nilai idealisme, ART.I Coffe and Space tetap membumi. Harga kopi dimulai dari Rp20.000 hingga Rp50.000. Ada pula kopi langka seharga Rp120.000 per cangkir, seperti Cup of Excellence yang per 50 kg-nya bisa tembus Rp48 juta. “Kita sediakan juga buat mereka yang punya obsesi tinggi sama kopi,” ujarnya.
Kendati menyasar anak muda, pengunjung tetap ART.I Coffe and Space justru didominasi pekerja, pegiat seni, peneliti NGO, dan aktivis LSM.
“Mungkin karena wifi-nya kencang dan baristanya bisa diajak ngobrol,” kelakar Ruben.
Soal menu, Ruben merekomendasikan “Bayliss” untuk non-kopi, dan “Bro” es kopi susu gula aren untuk penikmat kopi manis. Menariknya, gula aren diambil langsung dari Kasepuhan Cisungsang, Banten, melalui kerja sama dengan BUMDes setempat.
ART.I Coffe and Space buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 22.00. Di tempat ini, kopi bukan sekadar minuman. Ia menjadi alat untuk menyeduh kesadaran, menyuarakan keberpihakan, dan merawat harapan seteguk demi seteguk. (Nicko)


