MENJADI TIM PEMENANGAN PRABOWO
Sejak Prabowo maju menjadi calon presiden tahun 2014, Naniek Deyang masuk menjadi tim pemenangan bersama dengan wartawan senior lain seperti Budi Purnomo dsb. Meski akhirnya kalah dalam Pilpres, Deyang tidak serta merta meninggalkan Prabowo. Dia konsisten berada di belakangnya. Tahun 2019, Deyang tercatat menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Koalisi Adil Makmur.
Nama Naniek Deyang pernah menarik perhatian publik ketika menulis surat terbuka ke Megawati Soekarno Putri. Anda mempertanyakan sebutan Pak Harto sebagai “Bapak Pembangunan ” , dengan pertanyaan “Apa yg dibangun?” Demikian Deyang mengawali suratnya, Ibu bangunlah dari kesombongan Anda agar Anda tidak dipermalukan rakyat, begitu lanjutan Deyang.
Selanjutnya Deyang nulis,Ibu Alhamdulillah saya masih bisa menikmati pemerintahan Pak Harto, yg sangat saya paling ingat petani kala itu hidup makmur, nelayan makmur, masyarakat makmur. Dolar flat 1600-2000 sepanjang 30 tahun (hanya belakangan ketika mafia dunia tidak bisa menjatuhkan Pak Harto, dolar kemudian dimainkan agar terjadi krisis dan Pak Harto bisa dilengserkan).
Jadi waktu itu dunia usaha termasuk BUMN yakin dolar gak mungkin melonjak di atas 2000, jadi perusahaan swasta termasuk BUMN tidak melakukan hedging terhadap utang LN mereka, sehingga ketika dolar melonjak hingga 18 ribu , maka hancurlah semua perusahaan swasta dan BUMN yg berutang dolar (karena harus membayar lebih besar), akibatnya terjadi krisis ekonomi hebat sehingga Pak Harto dipaksa lengser. Tapi dengan 30 tahun menjaga dolar 2000 itu luar biasa lho Bu, manusia setengah dewa benar Pak Harto ini. Kalau waktu itu terjadi kriris ekonomi, sebetulnya bukan salah Pak Harto , tapi salah perusahaan swasta dan BUMN yg tidak melakukan hedging utang dalam mata uang dolar AS-nya.
Baca juga: Kementerian LH/BPLH Luncurkan Kebijakan Revolusioner Melawan Sampah untuk Jakarta

