Instruktur penerbangan dari George Town, Eugene Reid, menjelaskan bahwa ada protokol penting bagi pesawat kecil sebelum meninggalkan daratan: mereka harus memberi tahu layanan udara.
Jika hal itu tidak dilakukan, maka praktis tidak ada cara untuk mengetahui bahwa pesawat tersebut sedang terbang.
Bandara kecil seperti George Town juga tidak memiliki sistem pemantauan individu terhadap pesawat, sehingga jejak keberangkatan sulit dilacak.
Yang semakin menambah tanda tanya, pesawat itu tidak mengirimkan sinyal darurat otomatis. Lazimnya, jika pesawat mengalami kecelakaan, suar satelit darurat akan aktif dan mengirimkan lokasi. Namun, hingga kini tidak ada sinyal apa pun yang tertangkap.
Inspektur Polisi Tasmania, Nick Clark, menambahkan bahwa pilot dalam kasus ini bukanlah orang sembarangan. Gregory dikenal sebagai anggota berpengalaman dari klub terbang lokal. Meski begitu, pesawat yang ia terbangkan ternyata baru dibeli sekitar empat bulan lalu.
Kejadian ini sontak mengingatkan publik pada tragedi besar Malaysia Airlines MH370 tahun 2014, ketika pesawat yang membawa 239 orang hilang begitu saja setelah lepas landas dari Kuala Lumpur.
Sama seperti kasus tersebut, tak ada panggilan darurat ataupun sinyal marabahaya yang pernah dikirimkan pilot.
Misteri di langit kembali terulang, dan dunia menunggu jawaban yang hingga kini belum juga datang.***

