KITAINDONESIASATU.COM – Di ujung barat Indonesia, terdapat sebuah kecamatan unik bernama Pulau Aceh, bagian dari Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.
Uniknya, tiga tingkatan wilayah administratif ini—kecamatan, kabupaten, hingga provinsi—sama-sama membawa nama “Aceh”, seolah menegaskan identitas kuat daerah tersebut sebagai gerbang barat Nusantara.
Secara geografis, Pulau Aceh bisa dianggap sebagai “halaman depan” Kota Banda Aceh, bahkan menjadi titik strategis bagi kapal-kapal dari barat yang hendak masuk ke Selat Malaka dan perairan Indonesia.
Karena perannya yang penting sejak dahulu, kawasan ini sudah sejak lama menjadi perhatian dalam jalur pelayaran dan perdagangan dunia, terutama saat komoditas rempah menjadi incaran global.
Jejak Kolonial dalam Menara Willem Toren III
Di masa penjajahan, Belanda menyadari pentingnya memantau aktivitas laut dari wilayah ini. Maka dibangunlah sebuah mercusuar megah di Desa Meulingge, Pulo Breuh, sebagai titik navigasi dan pengawasan kapal.
Menara itu kini dikenal sebagai Mercusuar Willem Toren III—saksi bisu kolonialisme dan lalu lintas maritim yang sibuk pada masanya.
Menara ini berdiri kokoh di atas bukit, menghadirkan panorama spektakuler dari laut lepas dan gugusan pulau-pulau sekitarnya.
Namun tentu saja, tujuan awal pembangunannya bukan untuk memanjakan mata, melainkan sebagai alat pemantau kapal—apakah mereka datang membawa niat berdagang atau justru ancaman militer.

