KITAINDONESIASATU.COM – Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perjalanan sejarah yang menakjubkan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha dalam satu malam.
Peristiwa agung ini menyimpan samudera hikmah yang tetap relevan bagi kehidupan umat manusia, terutama dalam menghadapi tantangan zaman modern. Penceramah asal Kota Tangerang Ustadz Pepeng Effendi S.Ag mengemukakan hal tersebut menanggapi peristiwa Isra Miraj pada diri Nabi Muhammad SAW.
Disebutkan, hikmah pertama yang paling mendasar adalah tentang keteguhan iman. Isra Miraj terjadi di tahun kesedihan (Amul Huzni), setelah Rasulullah kehilangan pelindung utamanya, Siti Khadijah dan Abu Thalib.
Allah menghibur kekasih-Nya dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang mutlak. Hal ini mengajarkan kita bahwa di balik setiap kesulitan hidup yang menghimpit, selalu ada “hadiah” spiritual dan kemudahan yang telah disiapkan Allah jika kita bersabar.
Kedua, Isra Miraj menegaskan posisi sentral ibadah shalat. Berbeda dengan wahyu lainnya, perintah shalat lima waktu diterima langsung oleh Nabi Muhammad dari Allah SWT tanpa perantara malaikat Jibril di Langit Ketujuh.
Ini menunjukkan bahwa shalat adalah “Miraj”-nya orang beriman—sebuah sarana bagi setiap hamba untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan spiritual untuk menjaga keseimbangan jiwa di tengah hiruk-pikuk dunia.
Ketiga, peristiwa ini mengajarkan tentang keseimbangan antara ilmu dan iman. Secara logika manusia pada masa itu, perjalanan tersebut dianggap mustahil. Namun, bagi Abu Bakar Ash-Shiddiq dan orang-orang beriman, kebenaran wahyu melampaui batas akal.
Hikmahnya, umat Islam didorong untuk menggunakan akal untuk sains dan teknologi, namun tetap menundukkannya di bawah otoritas keimanan.
Terakhir, Isra Miraj adalah simbol persatuan umat. Menjadi imamnya Nabi Muhammad bagi para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa menunjukkan bahwa Islam adalah penyempurna risalah langit. Momen ini mengajak kita untuk terus menjaga persaudaraan dan optimisme dalam berdakwah.(*)

