Konon, pada masa awal, masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan gamelan Sekaten diwajibkan mengucapkan syahadat terlebih dahulu. Hal ini menegaskan bahwa Gamelan Sekaten Cirebon bukan sekadar hiburan, tetapi sarana spiritual untuk memperkuat keimanan.
Dengan cara lembut, dakwah Islam melalui seni gamelan berhasil menarik simpati masyarakat, menjadikannya tradisi yang terus hidup hingga kini.
Pusaka Sejarah
Seperangkat Gamelan Sekaten Keraton Kanoman merupakan pusaka bersejarah berusia ratusan tahun, bahkan ada yang meyakini usianya mencapai lebih dari 700 tahun sejak abad ke-14 Masehi.
Instrumen ini merupakan hadiah dari Kesultanan Demak yang dibawa ke Cirebon oleh Ratu Wulung Ayu, putri Sunan Gunung Jati.
Keberadaan gamelan pusaka Cirebon ini memperlihatkan hubungan erat antara politik, budaya, dan penyebaran Islam di masa lalu.
Penggunaan Gamelan Sekaten tidak dilakukan setiap saat. Alat musik pusaka ini hanya dikeluarkan saat momen khusus, yakni pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya dimainkan antara tanggal 7 hingga 12 Mulud di Bangsal Sekaten atau di kompleks Siti Hinggil Lemah Duwur.
Suara gamelan yang merdu selalu ditunggu masyarakat, menjadikan tradisi Sekaten Keraton Kanoman sebagai momen sakral yang dinanti setiap tahun.
Tradisi Sekaten di Keraton Kanoman Cirebon adalah perayaan yang memadukan nilai spiritual, sejarah, dan budaya.


