Berita Utama

Mengenang Golilio, Hiburan Sederhana Anak Betawi di Masa Lalu

×

Mengenang Golilio, Hiburan Sederhana Anak Betawi di Masa Lalu

Sebarkan artikel ini
FotoJet 12 5
Golilio aktivitas favorit anak-anak Betawi tempo dulu

KITAINDONESIASATU.COM – Pada masa lalu, anak-anak Betawi menghabiskan waktu sore mereka dengan melakukan permainan tradisional bernama Golilio.

Meski kini sudah jarang ditemukan, Golilio pernah menjadi aktivitas favorit anak-anak Betawi, khususnya yang berusia sembilan hingga lima belas tahun.

Permainan ini biasanya dimainkan saat musim panen, ketika anak-anak menunggu orang tua mereka bekerja di sawah.

Keistimewaan Golilio terletak pada penggunaan batang padi sebagai alat utama. Batang padi tersebut dapat menghasilkan bunyi menyerupai peluit ketika ditiup. Suara inilah yang menjadi inti permainan, di mana anak-anak saling bersaing untuk menghasilkan bunyi paling indah.

Tidak hanya batang padi, daun pisang atau daun kelapa juga sering digunakan sebagai pengganti.
Dalam beberapa kasus, batang padi bahkan dimodifikasi menjadi alat menyerupai terompet dengan menambahkan lilitan daun di ujungnya untuk mempercantik suara.

Cara bermainnya cukup sederhana. Anak-anak memotong batang padi dengan menyisakan sebagian ruasnya.

Setelah itu, batang tersebut dipijat hingga terbentuk rongga, memungkinkan suara keluar saat ditiup.

Mereka kemudian berlomba menghasilkan bunyi terbaik, terkadang menjadikannya sebagai kompetisi kecil untuk menentukan suara paling menarik.

Selain sebagai hiburan, Golilio juga berfungsi untuk membantu menggembalakan ternak. Suara yang dihasilkan digunakan sebagai penanda bagi ternak untuk mengikuti arahan tertentu.

Namun, permainan tradisional ini semakin jarang dimainkan seiring dengan berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi.

Anak-anak saat ini lebih tertarik pada hiburan modern yang ditawarkan oleh perangkat teknologi.

Meski begitu, Golilio tetap menjadi bagian berharga dari warisan budaya Betawi.

Permainan ini mengingatkan kita pada kedekatan masyarakat tradisional dengan alam dan kearifan lokal yang mereka miliki.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *