Berita Utama

Mengenal Gus Iqdam: Pendakwah Milenial yang Temui Jokowi di Solo

×

Mengenal Gus Iqdam: Pendakwah Milenial yang Temui Jokowi di Solo

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026 03 27 at 09.59.39
Pendakwah muda Gus Iqdam bikin heboh netizen usai temui Jokowi di Solo. (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Nama Muhammad Iqdam Kholid, atau yang lebih akrab disapa Gus Iqdam, kembali menjadi perbincangan hangat setelah kunjungannya menemui Joko Widodo di kediaman pribadinya di Sumber, Solo, Kamis 26 Maret 2026.

Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut mempertegas posisi Gus Iqdam sebagai salah satu tokoh muda paling berpengaruh di kalangan umat saat ini.

Lahir di Blitar pada 27 September 1993, Gus Iqdam merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam II di Karanggayam, Jawa Timur. Ia adalah cucu dari KH Zubaidi Abdul Ghofur, seorang ulama kharismatik di Jawa Timur.

Meski kental dengan latar belakang pesantren tradisional, Gus Iqdam berhasil mendobrak sekat dakwah konvensional melalui majelis ta’lim yang ia dirikan, Sabilu Taubah.

Keunikan Gus Iqdam terletak pada metode dakwahnya yang merangkul kaum marginal. Dengan jargon khas “Dekengane Pusat” dan “ST Nyell”, ia mampu menarik ribuan jamaah dari berbagai latar belakang, mulai dari santri, pekerja jalanan, hingga kalangan selebritas.

Gayanya yang santai, menggunakan bahasa Jawa yang merakyat, namun tetap berisi pesan moral yang mendalam, membuatnya sangat digandrungi oleh generasi milenial dan Gen Z.

Pertemuannya dengan Jokowi di Solo disebut-sebut sebagai bentuk silaturahmi antara ulama muda dan tokoh bangsa. Dalam berbagai kesempatan, Gus Iqdam memang sering menekankan pentingnya menjaga kerukunan nasional dan menghormati pemimpin.

Kunjungan ini juga dinilai banyak pihak sebagai simbol pengakuan atas peran besar Gus Iqdam dalam menjaga stabilitas sosial melalui dakwah yang menyejukkan.

Di usia yang belum genap 33 tahun, Gus Iqdam telah membuktikan bahwa dakwah bisa tampil relevan tanpa harus kehilangan esensi spiritualitasnya. Kehadirannya di Solo bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan refleksi dari kuatnya hubungan antara umara dan ulama dalam membangun narasi positif bagi bangsa.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *