KITAINDONESIASATU.COM – Kasus pengeroyokan seorang guru bahasa Inggris di SMK 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi benar-benar memcoreng wajah pendidikan nasional Indonesia.
Aksi pengeroyokan dan perlawanan dialami seorang guru bahasa Inggris bernama Agus Saputra yang menjadi bulan-bulanan sejumlah siswa yang sedang amarah.
Insiden kekerasan itu tidak terjadi secara spontan melainkan disebut sebagai puncak konflik yang berkepanjangan berlangsung lama bertahun-tahun.
Agus buka suara terkait kasus pilu ini yang lama dipendam mulai dari kasus perundungan yang dialami hingga berujung terjadi pengeroyokan brutal oleh muridnya sendiri yang sama-sama memendam amarah.
Peristiwa itu terjadi bermula dari sebuah teguran di dalam kelas yang dilakukan oleh seorang siswa kepada gurunya.
Pengajar bahasa Inggris ini terkejut ketika seorang siswa meneriaki dengan kata-kata tidak pantas dan tidak menghormati guru.
Pada hal siswa yang meneriaki dirinya, saat itu sedang mengikuti pelajaran bersama guru lain, dengan cara tidak sopan dengan kata-kata tidak pantas.
Merasa dilecehkan verbal Agus Saputra kemudian masuk ke dalam kelas meminta siswa tersebut mengakui perbuatannya.
Namun bukannya meminta maaf, siswa justru malah justru petentang petenteng bersikap arogan menantang sang guru.
Saat itu Agus masuk ke dalam kelas lantas menanyaka siapa yang memanggil namanya dengan kata-kata seperti itu.
Namun apa yang terjadi siswa bukannya meminta maaf, namun malah menantang sang guru dan secara refleks Agus kemudian satu kali menampar muka murid itu.
Inilah yang menjadi pemicu konflik hingga terjadi dan semakin memanas, hingga berujung terjadinya permusuhan di antara guru dan murid.
Peristiwa ini berlanjut hingga sore hari, ketika jam pelajaran selesai konflik ternyata masih berlanjut hingga waktu istirahat bahkan hingga sore hari.
Bahkan salah satu siswa yang ditegur itu, beberapa kali kembali menantang, situasi semakin tidak kondusif dan semakin panas meski sudah ada upaya mediasi.
Agus sebenarnya mengaku berusaha menahan diri dan memilih berada di area kantor sekolah yang terpasang kamera CCTV, sebagai perlindungan.
Teriakan-teriakan masih di dengar oleh agus bahkan sempat merekamnya teriakan para siswa yang membenci dirinya itu.
Sekitar pukul 16:00 WIB situasi berubah drastis, Agus tida-tiba diserang oleh sekelompok siswa dan mengeroyok secara membabi buta.
Dalam video terlihat Agus yang dikeroyok juga melakukan perlawanan dengan berusaha memukul dan mengejar kembali siswa yang membabi buta memukuli sang guru itu.
Insiden ini terekam melalui rekaman video hingga menyebar luas ke sosial media hingga berakhir menggemparkan dan viral.
Menurut Agus dirinya telah mengalami perundungan dari para siswa selama dua tahun terakhir oleh para siswa mereka sendiri.
Ia mengungkan ejekan dan sikap tidak hormat dilakukan berulang ulang dan bahkan diikuti oleh para siswa laki-laki lainnya yang begitu membencinya.
Sebenarnya selama ini, ia memilih bersabar dan menganggapnya sebagai risiko seorang pendidik, namun sakit hati terpendam lama akhirnya meledak juga.
Hari itu rupanya Agus tidak tahan menahan rasa sakitnya akibat perundungan oleh para siswa khususnya para murid laki-laki.
Agus sendiri mengungkapkan selama 15 tahun mengajar ia tidak pernah sekalipun melakukan kekerasan terhadap murid.
Tamparan kepada seorang siswa saat itu sebagai reaksi spontan akibat tekanan psikologis yang menumpuk dan berlangsung lama. **
