-Lebih dari 3.300 luka bakar serius.
“Cedera-cedera ini tidak hanya menciptakan permintaan luar biasa tinggi untuk layanan bedah dan rehabilitasi khusus, tetapi juga menghancurkan hidup para penyintas dan keluarga mereka,” tegas laporan WHO.
Sistem Kesehatan yang Kolaps dan Kekurangan Tenaga Ahli
Richard Pepperkorn, Perwakilan WHO untuk Wilayah Palestina, menekankan bahwa banyak dari korban akan membutuhkan “rehabilitasi seumur hidup”. Namun, kapasitas sistem kesehatan Gaza sudah ambruk. Hanya 14 dari 36 rumah sakit yang masih beroperasi sebagian, dan layanan rehabilitasi menyusut hingga sepertiga dari kapasitas sebelum perang.
Tragisnya, tenaga kesehatan spesialis juga berkurang drastis. Dari sebelumnya 1.300 terapis fisio dan 400 terapis okupasi, kini hanya tersisa 8 spesialis prostetik yang harus menangani ribuan kasus amputasi. Setidaknya 42 tenaga rehabilitasi tewas dalam konflik.
Dampak Psikologis dan Seruan Mendesak
Pepperkorn juga menyoroti dampak psikologis yang masif. Korban tidak hanya berjuang melawan cedera fisik, tetapi juga harus menghadapi trauma kehilangan keluarga serta kesulitan hidup sehari-hari, sementara layanan dukungan psikososial sangat terbatas.
