Berita Utama

Kota Tangerang Peringkat Pertama Jumlah ODHIV

×

Kota Tangerang Peringkat Pertama Jumlah ODHIV

Sebarkan artikel ini
poster hiv
Ist

KITAINDONESIASATU.COM-Kota Tangerang, Banten, menduduki peringkat pertama jumah wrganya yang terkena ODHIV (Orang Dengan HIV) dari jumlah ODHIV di Provnsi Banten sebanyak 2.100 ODHIV selama 2024.

Tahun ini, di Provinsi Banten terdapat 2.100 kasus ODHIV. Jumlah warga yang paling banyak ODHIV yatu di Kota Tangerang mencatatkan angka tertinggi, yakni 639 orang.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, dr Ati Pramudji Hastuti, kemarin. “Setiap tahunyna selalu bertambah,” ungkapnya.

Selain Kota Tangerang, beberapa kabupaten/kota lain di Banten juga melaporkan penemuan kasus HIV yang signifikan. Kabupaten Tangerang mencatatkan 510 kasus, diikuti oleh Kota Tangerang Selatan dengan 346 kasus.

Sementara Kota Tangerang dan Kabupaten Serang masing-masing melaporkan 164 dan 145 kasus. Kota Cilegon mencatatkan 122 kasus, Kabupaten Lebak 102 kasus, dan Kabupaten Pandeglang 72 kasus.

Hingga Oktober 2024, jumlah kumulatif ODHIV yang masih hidup di Banten sejak 1996 mencapai 11.652 pasien.

HIV adalah kepanjangan dari Human Immunodeficiency Virus, yakni suatu virus yang terdiri dari 2 rantai RNA. Virus ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia dan menyerang sistem imun serta melemahkannya. Rute masuknya virus HIV ke dalam tubuh manusia ialah melalui kontak antara cairan tubuh, utamanya darah, cairan vagina, cairan anus, cairan penis, dan juga ASI. Nah, jika seseorang tertular HIV, maka ia disebut dengan ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS).

Seringnya, penyakit akibat infeksi virus HIV juga disebut sebagai penyakit HIV. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, penyakit HIV dibagi menjadi beberapa tahap, yakni:

  • Tahap 1 (infeksi HIV akut)
  • Tahap 2 (infeksi HIV kronis, masa laten)
  • Tahap 3 (AIDS, acquired immunodeficiency syndrome);
    Pada tahap ini, sudah terjadi kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh, yang membuat penderita akan lebih mudah mengalami infeksi oportunistik dan gangguan fungsi multiorgan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *