Berita UtamaSejarah

Kisah Ramadan di Klenteng Tertua Bogor

×

Kisah Ramadan di Klenteng Tertua Bogor

Sebarkan artikel ini
IMG 20260224 WA0025 1
Suasana kebersamaan saat Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengikuti buka puasa bersama warga di Klenteng Phan Ko Bio, Pulo Geulis. (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Menyambut Ramadan 1447 Hijriah, Dedie A. Rachim menampilkan wajah toleransi Kota Bogor dengan ngabuburit bersama warga Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, sekaligus melaksanakan buka puasa bersama di klenteng bersejarah Phan Ko Bio yang berdiri sejak tahun 1700-an, Senin 23 Febuari 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Dedie Rachim bersama jajaran Pemerintah Kota Bogor dan Yayasan Desa Inklusi mengunjungi rumah-rumah warga lanjut usia (lansia) serta menjenguk warga yang sakit sambil memberikan bantuan.

Tak hanya itu, Dedie Rachim juga meninjau sejumlah rumah tidak layak huni yang nantinya akan diberikan bantuan alternatif untuk perbaikan rumah. Pada kesempatan yang sama, ia turut membagikan susu kepada anak-anak yang tengah menunggu waktu berbuka puasa.

“Inilah namanya ngabuburit. Ini juga bagian dari kita, di mana semua warga berbahagia menyambut bulan suci Ramadan dan menunggu waktu berbuka,” ujarnya.

Menurut Dedie Rachim, bulan Februari yang masih dalam suasana Imlek dan bertepatan dengan memasuki bulan suci Ramadan menjadi momentum penting keberagaman di Kota Bogor.

“Oleh karena itu, momentum ini kita jadikan sebagai momentum silaturahmi untuk menguatkan sinergi dan kolaborasi, serta meningkatkan toleransi. Pada kenyataannya, warga di sini tidak memiliki permasalahan apa pun terkait perbedaan latar belakang,” ucap Dedie Rachim.

“Jadi, inilah Bogor di dalam bulan suci Ramadan yang penuh berkah dan ampunan. Kita bisa buka puasa bersama di klenteng, bahkan disediakan makanan dan juga bisa melaksanakan salat di musala,” sambungnya.

Usai buka puasa bersama, Dedie Rachim melanjutkan kegiatan dengan menyusuri permukiman padat penduduk serta melaksanakan salat Isya dan Tarawih keliling di Kampung Padabeunghar.

Sementara itu, Direktur Yayasan Desa Inklusi, Lazira, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga dan merawat keberagaman di tengah masyarakat.

“Ini merupakan wujud toleransi yang kuat antarmasyarakat. Makanya, ketika ada kegiatan lintas budaya seperti buka puasa bersama, itu menjadi gambaran bahwa Kota Bogor itu indah dengan tingkat toleransi yang tinggi. Jadi, harapannya kegiatan ini bisa terus berlanjut,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut juga dilaksanakan pembagian sembako dan santunan bagi anak yatim, lansia, dhuafa, serta masyarakat yang membutuhkan lainnya.

“Karena kita melihat lansia juga perlu kita dukung. Harapannya kegiatan ini bisa diduplikasi oleh komunitas lain dan menjadi role model, sebagai miniatur keberagaman yang ada di Kota Bogor,” tuturnya. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *