Berita Utama

Kisah Perjuangan Jansen Manangsang, dari Sirkus Keliling Menjelma Jadi Taman Safari

×

Kisah Perjuangan Jansen Manangsang, dari Sirkus Keliling Menjelma Jadi Taman Safari

Sebarkan artikel ini
Jansen Manansang, pemilik Taman Safari Indonesia (TSI) di Puncak, Bogor, Jawa Barat.(Aris MP)
Jansen Manansang, pemilik Taman Safari Indonesia (TSI) di Puncak, Bogor, Jawa Barat.(Aris MP)

“Kemudian ambulans sudah disiapkan, rumah sakit terdekat yang mudah di jangkau,” ujar Ni Luh.

Ia memperkirakan pada Desember ini jumlah wisatawan akan melonjak secara drastis mencapai 78 juta orang secara nasional, karena adanya peringatan Natal dan perayaan Tahun Baru 2025.

“Artinya kita harus memastikan mereka merasa senang, mereka mendapatkan pengalaman yang baik ketika berwisata di daerah daya tarik wisata terutamanya yang terbuka,” tuturnya.

Memang, belum semua orang akrab dengan nama Jansen Manansang. Dialah orang pertama yang mendirikan Taman Safari Indonesia.

Sebuah destinasi wisata khusus tempat melihat aneka ragam hewan buas di alam terbuka. Yang biasanya hanya terdapat di kawasan hutan belantara, seperti di Benua Afrika.

Jansen Manansang memang salah satu pendiri tempat wisata suaka margasatwa terkenal tidak hanya di Indonesia, tapi Asia Tenggara.

Pria kelahiran Jakarta pada 1942 ini, sebelum

mendirikan Taman Safari Indonesia, sejak kecil  ia memang bermain sirkus yang dikelola sang ayah, Hadi Manangsang.

Jansen bersama dua saudaranya, Frans Manangsang dan Tony Sumapau, selalu ikut serta bersama orangtua menggelar permainan akrobat keliling.

Hadi Manangsang merupakan pemain akrobat. Kala itu, usia Jansen baru 7 (tujuh) tahun.

Ia dan kedua adiknya ikut keliling rombongan sirkus ayahnya, bernama Bintang Akrobat dan Gadis Plastik itu.

Tak cuma ikut, tiga bersaudara ini juga tampil dalam setiap pertunjukan. Supaya lihai berakrobat, setiap hari mereka digenjot latihan keras, misalnya latihan handstand selama sedikitnya 45 menit. 

Segala keperluan pertunjukan mereka siapkan secara pribadi, mulai dari pemain sirkus, melatih satwa, konsumsi, tenda, mengangkat peralatan, hingga mengurus perizinan. 

Berkat kerja keras, sirkus dan akrobat keluarga Manansang berkembang maju hingga akhirnya memiliki sirkus bertenda.

Suatu ketika sang adik, Tony Sumapau, tergigit harimau dan memerlukan pengobatan. Keluarga Manangsang kemudian membawanya pergi berobat ke Australia. 

Di Negeri Kangguru itu, mereka melihat sebuah kebun safari yang luas. Dari sanalah muncul ide untuk mendirikannya kebun binatang. 

Kecinatan Hadi kepada memang cinta betul dengan satwa liar, bisa dilihat di mana ia menjuluki anak-anaknya dengan sebutan nama hewan.

Hadi menamakan Jansen dengan Macan Satu, Macan Dua untuk panggilan Frans, dan Macan Tiga untuk panggung Tony.

Setelah pulang ke Indonesia, Hadi dan anak-anaknya akhirnya banting setir. Mereka lantas mencari tempat untuk dijadikan lokasi suaka margasatwa. 

Kemudian ditemukanlah tempat yang cocok di Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *