Berita Utama

Kisah Anak 12 Tahun Angkat Semen, Wakil Rakyat Bicara: Pemkot Bogor Jangan Angkat Tangan

×

Kisah Anak 12 Tahun Angkat Semen, Wakil Rakyat Bicara: Pemkot Bogor Jangan Angkat Tangan

Sebarkan artikel ini
anak 1
Wakil Ketua Komisi 3 DPRD Kota Bogor, Benninu Argoebie saat menemui anak laki-laki berusia 12 tahun jadi kuli bangunan (KIS/IST)

KITAINDONESIASATU.COM– Ditengah gempuran pembangunan guna mempercantik Kota Bogor, terselip kisah memilukan datang dari seorang anak laki-laki berusia 12 tahun. 

Alih-alih bermain dan belajar di sekolah, dia harus banting tulang jadi kuli bangunan demi menyambung hidup bersama neneknya yang sudah sepuh.

Sudah empat bulan anak kelas 6 SD ini absen dari bangku sekolah. Bukan karena malas, tapi karena desakan hidup.

Ayahnya sudah tiada, ibunya entah di mana. Tinggal berdua dengan nenek berusia 68 tahun, anak ini terpaksa bekerja kasar untuk sekadar makan sehari-hari.

Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh Tim Benninu Argoebie Center kepada Wakil Ketua Komisi 3 DPRD Kota Bogor, Benninu Argoebie, atau yang akrab disapa Kakak Benn. Merespons laporan tersebut, Kakak Benn menyatakan keprihatinan mendalam.

Ia mengingatkan bahwa kemiskinan ekstrem bukan sekadar statistik di atas kertas, tapi realita yang menampar langsung di depan mata.

“Ini darurat! Masa depan anak-anak kita dipertaruhkan. Tidak boleh ada lagi anak di Bogor yang putus sekolah hanya karena tekanan ekonomi,” tegasnya, Selasa 29 April 2025.

Kakak Benn juga mendesak Pemerintah Kota Bogor untuk bertindak cepat dan konkret. Menurutnya, program sosial harus lebih jitu menyasar warga paling rentan, bukan sekadar seremonial.

“Kita harus buktikan kalau Kota Bogor benar-benar peduli. Jangan biarkan anak-anak kehilangan masa depannya hanya karena kita lalai,” tambahnya.

Sebagai langkah awal, tim Kakak Benn berkomitmen untuk membantu anak tersebut kembali ke sekolah dan mendapatkan bantuan langsung. Karena, seperti yang ia tekankan, generasi muda adalah masa depan kota ini dan mereka berhak untuk tumbuh, belajar, serta bermimpi tanpa beban kemiskinan. (Nicko/Yo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *