KITAINDONESIASATU.COM- Jajanan manis berwarna mencolok yang tengah viral dan digandrungi anak-anak kini memicu kekhawatiran serius di kalangan tenaga kesehatan. Di balik tampilan menarik dan rasa manis yang menggoda, jenis makanan ini dinilai berpotensi menyimpan risiko kesehatan akibat tingginya kandungan gula dan penggunaan pewarna buatan yang dikonsumsi secara berulang.
Dokter Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran IPB University, dr Yusuf Ryadi, SKed, MKM, mengingatkan bahwa konsumsi makanan tinggi gula dan pewarna secara rutin berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak.
“Dampaknya cukup serius, terutama jika dikonsumsi rutin. Asupan gula berlebih terbukti meningkatkan risiko obesitas, gigi berlubang, gangguan metabolik, dan pada beberapa anak dapat memicu gangguan perilaku serta gangguan konsentrasi,” ujarnya, dalam kesempatan tertulis nya, Senin 26 Januari 2026.
Ia menjelaskan, meskipun pewarna dan perisa buatan yang digunakan dalam jajanan tersebut bersifat food grade dan diperbolehkan secara regulasi, risiko kesehatan tetap ada apabila dikonsumsi berlebihan atau dalam jangka panjang. Kondisi ini dinilai lebih berbahaya karena sistem metabolisme anak masih dalam tahap perkembangan.
Fenomena jajanan viral dengan warna mencolok juga disebut turut mendorong meningkatnya masalah gizi pada anak. Menurut dr Yusuf, tren konsumsi tersebut berkontribusi secara tidak langsung terhadap lonjakan obesitas dan penyakit tidak menular di usia dini.
“Jajanan viral umumnya tinggi gula, lemak, dan kalori, namun rendah serat serta zat gizi. Jika pola konsumsi ini menjadi kebiasaan sejak dini, risiko obesitas anak meningkat dan dapat berlanjut menjadi diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia lebih muda,” jelasnya.
Lebih lanjut, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula sejak usia dini juga berdampak terhadap pola makan jangka panjang anak. Ketergantungan terhadap rasa manis dapat membuat anak kesulitan menerima makanan sehat di kemudian hari.
“Preferensi rasa terbentuk sejak kecil. Jika terbiasa dengan rasa manis dan warna mencolok, anak akan kesulitan membiasakan diri dengan makanan sehat yang secara visual dan rasa cenderung kalah menarik,” ungkap dr Yusuf.
Dari sisi pengawasan, dr Yusuf menilai regulasi terkait keamanan pangan sebenarnya telah tersedia. Namun, penerapannya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, terutama pada produk jajanan rumahan, jajanan viral musiman, serta penjualan daring yang kerap luput dari pengawasan rutin.
“Pengawasan terhadap takaran gula, jenis pewarna, dan bahan tambahan pada produk-produk tersebut masih menjadi celah,” katanya.
Ia menegaskan, langkah paling mendesak yang perlu dilakukan pemerintah adalah memperkuat pengawasan jajanan anak, memperjelas label kandungan gula dan bahan tambahan, serta melakukan edukasi secara masif kepada orang tua dan pihak sekolah.
“Selain itu, perlu kebijakan yang mendorong terciptanya lingkungan pangan sehat, agar anak-anak memiliki akses yang mudah terhadap makanan bergizi, enak, dan aman,” tutupnya. (Nicko)

